Tujuan tertinggi spiritualitas kristiani adalah persatuan dengan Tuhan, yang merupakan kebahagiaan tertinggi manusia. Pencapaian persatuan dengan Tuhan dimungkinkan oleh rahmat, dan hidup yang dijiwai oleh kebajikan teologal (iman, pengharapan, dan kasih)

Untuk mencapai persatuan dengan Tuhan, bagi kita telah disediakan sarananya, yaitu sakramen. Sakramen adalah sarana Tuhan mencurahkan rahmat-Nya kepada kita dalam setiap aspek penting kehidupan kita, dan yang terbesar adalah Ekaristi, karena Ekaristi adalah Kristus sendiri. Hanya dalam Ekaristi kita berjumpa secara pribadi dengan Allah. Maka Ekaristi merupakan sumber rahmat yang terbesar.

Ekaristi merupakan sumber hidup kristiani, artinya Ekaristi mengungkapkan bahwa keselamatan berawal dari Tuhan, bukan dari diri kita. Tuhanlah yang pertama-tama memberikan Diri-Nya kepada manusia melalui Kristus. Secara bersamaan, Ekaristi, oleh rahmat Allah merupakan persembahan balik kita kepada Tuhan, melalui Yesus Kristus, Imam Agung kita, oleh kuasa Roh Kudus, dan disinilah Ekaristi menjadi puncak hidup spiritualitas kristiani. Hubungan pribadi yang intim antara Allah dan manusia secara individu, direalisasi disini, yaitu melalui Tuhan memberikan Diri-Nya kepada kita dan kita merespon dengan iman dan kesetiaan, yang disebut komuni.

Begitu intimnya relasi yang (mestinya) terjadi antara Allah dan manusia, namun sayangnya banyak orang kristiani yang tidak mengetahui dan mendalami betapa Ekaristi ini dapat membawanya kepada persatuan dengan Tuhan. Banyak umat yang tidak mengutamakan Ekaristi dan banyak yang datang ke Ekaristi tanpa mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga makna penebusan dan persatuan yang dapat diperoleh melalui partisipasinya dalam Ekaristi menjadi berkurang efektivitasnya.

Ekaristi Merupakan Sumber Rahmat

Ekaristi merupakan sumber rahmat melalui berbagai cara:

  1. Ekaristi adalah Kristus sendiri. Hanya dalam Ekaristi kita menerima Kristus sendiri, yang hadir secara nyata dalam kodrat-Nya sebagai 100% Allah dan 100% manusia, yaitu melalui roti dan anggur yang berubah secara substansial menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
  2. Ekaristi menghadirkan kembali karya penyelamatan Kristus di kayu salib. Di Kalvari, Kristus mempersembahkan Diri-nya kepada Bapa di dalam Roh, untuk menyelamatkan manusia. Hal ini terjadi satu kali saja untuk selamanya (Yesus tidak mati lagi dalam Misa). Dalam Ekaristi, pengorbanan Kristus ini “hadir kembali” secara sacramental, dan dirayakan di atas altar. Kristus sebagai imam yang mempersembahkan kurban (hadir di Surga) adalah juga sekaligus kurban yang dipersembahkan di altar, hadir saat ini dan sekarang. Dengan cara ini, “karya penebusan kita tercapai” melalui persembahan Ekaristi (Lumen Gentium, no 3), dan buah-buah dari Kurban Kristus diterapkan kepada kita di sini dan saat ini.
  3. Ekaristi merupakan kurban persembahan Gereja. Hal ini terjadi karena Ekaristi merupakan kurban persembahan Kristus, dan Kristus adalah mempelai Gereja, yang “satu daging” dengan Gereja. Gereja memper-sembahkan Kristus, kurban yang tak bercacat-cela, kepada Bapa. Dan Gereja, di dalam persatuan dengan Kristus, mempersembahkan dirinya kepada Bapa di dalam Roh.
  4. Ekaristi merupakan sumber pertobatan. Hal ini terjadi lewat sedikitnya 2 cara: Pertama, untuk benar-benar dapat menerima buah-buah dari Ekaristi, sebelum menyambut Ekaristi, kita mesti menyelidiki hati kita adakah dosa berat, dan meminta pengampunan lewat Sakramen Tobat. Kedua, permenungan atas pengorbanan Kristus yang hadir di dalam Ekaristi, semestinya dapat membawa jiwa kepada pertobatan yang semakin mendalam.

Ekaristi Merupakan Sumber Pertumbuhan Iman, Pengharapan, dan Kasih

Iman, pengharapan, dan kasih merupakan kebajikan yang sangat penting dalam kehidupan spiritual karena ketiga kebajikan ini membawa umat ber-iman untuk hidup dalam relasi dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

Iman adalah kebajikan dimana kita meletakkan kepercayaan diri kita kepada Allah, yaitu pikiran dan keinginan kita. Oleh iman kita percaya akan segala yang Tuhan nyatakan. Ekaristi membawa kita untuk masuk ke dalam persatuan dengan Allah, dengan menerima dalam iman segala karya keselamatan yang Tuhan telah lakukan bagi kita. Disini iman kita menjadi semakin dalam karena kita diingatkan akan apa yang Tuhan sungguh telah perbuat bagi kita: Ia telah menunjukkan kepada kita bahwa Ia adalah Allah yang dapat dipercaya.

Pengharapan membuat kita menginginkan Kerajaan Allah dan kehidupan kekal; oleh pengharapan kepada Allah kita percaya pada janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan pertolongan Roh Kudus. Ekaristi memberikan kepada kita pengharapan untuk dapat hidup sebagai sahabat Allah; dan karya penebusan Kristus, wafat dan kebangkitan-Nya memelihara pengharapan kita akan hidup kekal.

Perintah Tuhan yang paling utama adalah agar kita mengasihi Tuhan dan sesama. Ekaristi adalah sumber dari cinta-kasih, ia sendiri disebut sakramen cinta-kasih. Di dalam Ekaristi kita melihat besarnya cinta Allah, yang mau berkorban dan memberi diri bagi kita. Menyadari dan mengalami cinta Tuhan yang demikian besar melalui Ekaristi, kita pun mestinya tergugah untuk balik mencintai Tuhan dengan sepenuh hati.

Dalam Ekaristi kita akan semakin mengenal Allah Tritunggal sehingga kita akan semakin bertumbuh mengasihi Dia, dan sebagai akibatnya kita akan bertumbuh dalam kasih kepada sesama, karena Tuhan sendiri berfirman, ”Barangsiapa mencintai Allah harus mencintai sesamanya manusia juga.” (bdk 1 Yoh 4:21).

 Ekaristi Sebagai Puncak Hidup Kristiani

Seorang yang menerima kasih yang besar dari rumah (keluarganya), akan selalu kembali pulang ke rumah itu. Hidupnya dimampukan oleh karena apa yang diterimanya dari sana, karyanya pada akhirnya untuk dibawa pulang kesana. Rumah itu bukan saja sumber kekuatannya, melainkan juga puncak hidupnya, segala tindakannya mengarah kesana.

Demikianlah pula setelah menerima segala sumber rahmat dan kebajikan dari Ekaristi, orang kristiani menjadikan Ekaristi sebagai puncak kehidupannya. Hidupnya semakin diarahkan kepada Ekaristi, yaitu kepada partisipasinya dalam pengorbanan Kristus. Semakin kita menyadari betapa Ekaristi merupakan sumber rahmat yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah, kita akan semakin merindukan Ekaristi dan mau terus kembali kepada Ekaristi untuk menanggapi kasih Allah, dengan membawa pertobatan yang terus-menerus dan hidup yang makin bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih.

Gereja merujuk Ekaristi sebagai puncak spiritualitas kristiani karena Ekaristi merupakan kepenuhan perayaan liturgi dari wafat dan kebangkitan Kristus. Ekaristi adalah cara kita, dalam persatuan dengan Kristus, memberikan kemuliaan dan pujian tertinggi bagi Tuhan (Bishop Thomas J. Olmsted).

Referensi

Sumber: 1) Katekismus Gereja Katolik, 2)The Eucharist Source and Summit of Christian Spirituality, Mark Brumley, The Catholic Faith, May/June 1996 Issue 3) Kuasa Transforman Ekaristi, Rm Yohanes Indrakusuma CSE 4)The Eucharist Source and Sumit of the Faith, Joyce Coronel, The Catholic Sun.

Sharing (boleh pilih salah satu):

  1. Sharingkan pengalamanmu menerima rahmat dari Ekaristi
  2. Sharingkan bagaimana Ekaristi membantu pertumbuhanmu dalam iman, pengharapan dan kasih.

admin