Menyadari Panggilan Perutusan Gereja atau Evangelisasi

Dewasa ini, dunia penuh dengan ketegangan, luka -luka, budaya hidup tak sehat dan banyak orang dijauhkan dari Gereja. Sementara itu, kita semua memiliki panggilan untuk mengambil bagian dalam karya pelayanan. Bahkan tertera di dalam Visi dan Misi KTM : “Dalam kuasa Roh Kudus, mengalami dan menghayati sendiri kehadiran Allah yang penuh kasih dan menyelamatkan sampai pada persatuan cinta kasih, serta membawa orang lain pada pengalaman yang sama”.

Pertama-tama, kita mengalami terlebih dahulu pengalaman kasih Allah, lalu kita berjuang untuk membawa orang lain pada pengalaman yang sama. Ini artinya kita semua ikut ambil bagian dalam karya perutusan Gereja atau Evangelisasi. Anggota KTM diajak untuk berbagi dan rela terlibat dalam pelayanan, baik di dalam tubuh KTM maupun pelayanan diluar KTM.

1. Mengasihi Allah

Hal paling dasar yang harus kita lakukan adalah Mengasihi Allah, seperti halnya perintah utama dalam hukum Taurat tertulis  “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30).

Cara – cara yang dapat dilihat dari seorang Pelayan dalam usahanya untuk mengasihi Allah adalah :

  • Hidup doa yang teratur
  • Penghayatan terhadap Sakramen-sakramen
  • Membaca dan merenungkan Sabda Tuhan
  • Selalu mencari makna dan Kehendak Allah

Seorang Pelayan yang mengasihi Allah akan berjuang juga untuk menyenangkan Tuhan dalam segala perilaku dan ucapannya. Dengan demikian perbuatan kasih ini pasti akan menyebar ke orang-orang di sekeliling. Seseorang juga tidak akan mungkin mengasihi Allah kalau ia sendiri tidak merasakan dikasihi Allah. Jadi ini akan menjadi pelayanan yang bersifat membagi kasih dan kebaikan kepada semua orang, karena Allah baik.

2. Mengandalkan Allah di dalam pelayanan

Hal terpenting dari mengandalkan Allah adalah memiliki iman yang teguh dan bersikap rendah hati dalam pelayanan. Iman merupakan perlengkapan senjata Allah berupa perisai. Karena itu Pelayan Tuhan harus mempunyai iman yang sungguh-sungguh mendalam. Dia harus mendasarkan hidupnya atas iman yang di dengarnya yaitu Firman Tuhan. Bila dia menghadapi kesulitan-kesulitan, bahkan mungkin sampai ditolak, dia harus memakai perisai iman. Dia harus yakin dan percaya akan sabda Tuhan dalam Kitab Suci yang berkata, “Barang siapa mengikuti Aku hendaklah dia memikul salibnya setiap hari; Bila kamu ditolak oleh dunia ingatlah bahwa mereka telah menolak Aku lebih dahulu”.

Ingatlah pula bahwa dalam hidup rohani, kerendahan hati adalah pondasi bangunan rohani. Semakin tinggi bangunan rohani seseorang, pondasi bangunan rohaninya harus semakin dalam supaya bangunan itu tidak roboh dan hancur lebur. Seorang pelayan Tuhan biasanya diandaikan bahwa bangunan rohaninya atau hidup rohaninya semakin tinggi. Menurut Visi Misi KTM dan Statuta KTM, anggota yang sudah bisa melayani harus lebih dahulu mengalami sendiri akan kasih Allah di dalam dirinya baru membawa orang lain pada pengalaman yang sama. Berarti dalam ukuran tingkat rohani, kadar imannya sudah tinggi dari keadaannya sebelumnya. Dengan pertimbangan tersebut, mempunyai konsekuensi bahwa kerendahan hati pelayan Tuhan harus lebih dalam lagi. Bila tidak demikian maka yang akan terjadi hanyalah kebalikan dari kerendahan hati yaitu kesombongan. Jadi bagi para pelayan Tuhan hanya akan dihantar pada dua kemungkinan ini, yaitu apabila dia tidak rendah hati maka dia akan menjadi sombong. Bila seorang pelayan Tuhan sudah jatuh dalam kesombongan, maka itu berarti ia berada dalam bahaya besar.

3. Memiliki cinta kasih dan belas kasihan

Seorang pelayan Tuhan harus mempunyai hati penuh dengan kasih dan belas kasihan. Dari kepenuhan hatinya itu meluaplah kasih dan belas kasihan kepada orang yang dilayaninya. Bagaimana mungkin orang dapat mengasihi orang lain bila dia tidak mempunyai kasih. Bagaimana caranya memiliki kasih Kristus? Kasih itu dapat ditimba dari sumur kontemplasi. Kasih itu dapat bertumbuh dalam melaksanakan kurban-kurban, latihan-latihan rohani dan penghayatan sakramen-sakramen.

Dalam pelayanan untuk membawa atau mengembalikan orang kepada Tuhan misalnya pelayanan doa penyembuhan, dll, cinta kasih dan belas kasihan mutlak sangat diperlukan. Sebab iman saja tanpa cinta kasih bisa keliru. Dari ketiga kebajikan teologal: iman, harapan, dan kasih, maka kasihlah yang paling tinggi. Bila dalam hati pelayan Tuhan dipenuhi kasih Kristus, tentu saja kasih itu akan meluap dari hatinya dan mengalir kepada orang yang dilayaninya. Demikian juga kasih itu akan mengalahkan dan menutupi kekurangannya. Tuhan Yesus berkata: “Belajarlah daripada-Ku karena Aku lembut dan rendah hati”. Yesus penuh kasih dan belas kasihan. Yesus menyalurkan kasih Bapa kepada orang-orang yang dilayani-Nya, entah dalam kotbah atau dalam pelayanan penyembuhan-Nya dan lain-lain. Dengan demikian Dia mampu menjadi pelayan sesuai dengan hati Allah. Maka sebenarnya prinsip dari pelayanan hanyalah menyalurkan kasih dan belas kasihan Tuhan kepada orang yang dilayani karena sesungguhnya Tuhan sendiri sangat mengasihi dan penuh dengan belaskasihan kepada mereka. Para Pelayan Tuhan hanyalah sebagai penyalur kasih Tuhan.

4. Pelayan Tuhan harus dapat mendengarkan

Pelayan Tuhan pertama-tama harus membiasakan diri mendengarkan Tuhan. Dia harus selalu masuk dalam hatinya untuk mendengarkan Dia yang bertahta di dalam hati. Ini berarti bahwa seorang pelayan Tuhan harus selalu masuk dalam keheningan hati, keterpusatan hati, dan kontemplasi. Di dalam pelayanannya dia harus berusaha untuk mengendalikan diri dari keinginan untuk langsung berbicara atau menasihati. Segala sesuatu hantarlah kepada Yesus di dalam hati, bercakap-cakaplah dengan dia sebanyak mungkin.

Demikian pula pelayan Tuhan harus mendengarkan orang yang dilayani. Banyak orang yang mempunyai kecenderungan untuk selalu mau memberi nasihat tanpa mau mendengarkan, mereka menganggap sudah tahu persoalan. Kalau demikian maka orang yang dilayani mudah menutup diri. Sebetulnya dari sekian banyak orang yang minta dilayani, sebagian besar tidak membutuhkan pemecahan persoalan atau problem-problem. Mereka hanya membutuhkan satu dua nasihat saja sudah cukup. Kebanyakan orang hanya butuh didengarkan, butuh diperhatikan dan butuh pengalaman kasih Allah.

Kalau pelayan Tuhan mempunyai kemampuan untuk mendengarkan Tuhan dan mendengarkan orang yang dilayani, dia akan menolong banyak orang. Maka mohonlah kepada Tuhan, “Tuhan, berilah aku hati yang penuh pengertian, hati yang bisa mendengarkan”.

5. Mempunyai hati yang lepas bebas dari buah – buah karya

Pelayan Tuhan tidak boleh mengikat orang yang dilayaninya pada dirinya sendiri. Di antara pelayan Tuhan jangan ada persaingan. Orang mempunyai kecenderungan pada godaan untuk terikat pada hasil karyanya, bahwa itu adalah miliknya sehingga menjadi tidak senang kalau orang yang dilayani berkonsultasi atau dekat dengan orang lain. Ini berarti sudah menjadi suatu keterikatan. Bila demikian kita melayani bukan untuk orang itu dan bukan juga untuk Tuhan, tetapi untuk diri sendiri serta mencari kebanggaan sendiri atau mungkin untuk maksud-maksud terselubung lain demi kepentingan dirinya sendiri. Bila sudah timbul kebanggaan atas hasil karyanya maka pelayan Tuhan tersebut akan mudah dihantar pada kelekatan. Akhirnya semua ini menjadi jerat bagi pelayan Tuhan yang akhirnya menjatuhkan dia karena kelekatan pada sesuatu atau orang tertentu akan menjauhkan dirinya dari Tuhan. Pelayan Tuhan hanya boleh lekat pada yang dilayaninya yaitu Tuhan. Bila seseorang sungguh-sungguh mau mengabdi Tuhan, dia harus mempunyai sikap seperti Yohanes Pembaptis yang berkata “yang mempunyai mempelai perempuan adalah mempelai laki-laki, tetapi sahabat mempelai laki-laki bergembira mendengar suaranya”.

6. Memiliki Kesatuan dengan Gereja dan Komunitas

Akhirnya, seperti halnya tertulis “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh”( 1 Kor 12 : 12 – 27 ) baiklah kita menyadari peran kita bahwa segal hal yang kita lakukan tidak terlepas dari kesatuan dengan Gereja.

Bahkan makna gereja yang sesungguhnya adalah kita semua sebagai umat pilihan Tuhan yang mau saling berbagi satu sama lain. Demikianlah pula keberadaan komunitas menjadi begitu penting sebagaimana perannya yang aktual dalam menjadi wadah bagi pelayanan kita dan juga peluang kita untuk melayani.

Berjuang didalam kesatuan dengan Gereja dan Komunitas sebenarnya juga mampu menguatkan kita karena dari situ kita menjadi sadar bahwa kita tak pernah berjuang sendiri. Selalu ada kesempatan untuk melihat karya Tuhan bekerja dalam diri saudara-saudari seiman yang juga turut bekerjasama  dengan kita dalam suatu kegiatan pelayanan.

Seringkali, kekuatan baru dapat kita timba baik dari kesaksian anggota dan juga peran serta masing – masing dalam perjuangan menyelesaikan tugas pelayanan kita dapatkan. Ini akan mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati, rela berkorban dan setia dalam pelayananan kita, yang pada akhirnya pula akan menumbuhkan iman dan pengharapan kita didalam Kristus.

SHARING

  1. Pengalaman apa saja yang Anda dapat selama ikut pelayanan dalam komunitas maupun pelayanan pribadi ?
  2. Bagaimana cara mengatasi kejenuhan dalam pelayanan ?
  3. Kriteria pelayan Tuhan yang mana saja yang menurut Anda sudah Anda miliki saat ini? Sharingkanlah hal tersebut.

Referensi

http://www.holytrinitycarmel.com/karismatika-dasar-dasar-pelayanan/

admin