KARUNIA TAKUT AKAN TUHAN

Joel kecil barusan kedapatan melakukan suatu kenakalan. Papa dan mama Joel yang hendak mendisiplinkan anak bungsunya yang berusia empat tahun, memarahi Joel karena kenakalannya tersebut. Dengan raut sedih, Joel memandang papa dan mamanya bergantian.Dalam beberapa detik, matanya berkaca-kaca, mulutnya bergetar, dan meledaklah Joel dalam tangis. Sambil tersedu-sedan Joel berkata, “Kalau papa dan mama marah begitu sama Joel, kalau papa dan mama tidak sayang lagi sama Joel, Joel nanti bagaimana? Joel tidak bakal bisa hidup, Joel ‘bisa’ mati kalau papa mama tidak cinta Joel.”

Cuplikan di atas diinspirasi dari kejadian nyata. Joel, kanak-kanak yang polos, merasa takut kalau-kalau ia tidak dicintai lagi oleh orang-tuanya karena dimarahi oleh mereka. Dalam kesederhanaan cintanya pada orangtuanya, ia hanya tahu satu hal, bahwa ia sangat membutuhkan cinta kedua orang-tuanya, dan merasa bahwa ia tak bisa hidup tanpa cinta mereka. “Ketakutan” yang dialami Joel kecil bukanlah takut pada orang-tuanya seolah-olah orang tuanya akan menghukum dia dengan berat; ketakutannya adalah takut kehilangan cinta orangtuanya, karena ia sangat mencintai mereka, yang adalah sumber dan pusat kehidupannya. Dari Joel kecil kita dapat belajar tentang sikap takut akan Allah, yang sesungguhnya merupakan satu dari tujuh karunia Roh Kudus.

Tujuh Karunia Roh Kudus

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kita semua, pada saat pembaptisan (dan dikuatkan pada saat Krisma) diberikan karunia-karunia Roh Kudus. Karunia-karunia tersebut adalah seperti yang dilukiskan dimiliki oleh Mesias secara lengkap dan sempurna, dalam Yesaya 11:1-3, yaitu: takut akan Tuhan (fear of the Lord), pengenalan akan Tuhan (knowledge), kesalehan (piety), keperkasaan (fortitude), nasehat (counsel), pengertian (understanding), dan kebijaksanaan (wisdom).

Dinamakan karunia-karunia Roh Kudus, dikarenakan Roh Kudus lah yang mengaruniakannya. Karenanya, mereka adalah karunia adikodrati yang bekerja secara adikodrati. Ini bukanlah karunia yang diperoleh seseorang pada waktu-waktu tertentu, melainkan akan selalu ada di dalam setiap orang, asalkan orang tersebut  berada dalam keadaan rahmat, artinya tidak berada dalam dosa berat dan memiliki relasi yang baik dengan Tuhan/menyenangkan Tuhan.

Karunia Takut Akan Tuhan

Karunia takut akan Tuhan seringkali salah dimengerti oleh karena kata “takut”. Memang ada dua bentuk takut akan Tuhan, yaitu: takut (akan Tuhan) yang sempurna dan takut yang tidak sempurna. Sesungguhnya keduanya penting.

Takut (akan Tuhan) yang tak sempurna adalah ketakutan terhadap penghukuman dan takut kehilangan Surga. Kebanyakan orang memulai perjalanan rohaninya dari adanya rasa takut akan Tuhan yang tak sempurna ini — dan sesungguhnya kita memerlukan rasa takut seperti ini dari waktu ke waktu. Yesus sendiri seringkali menghimbau rasa takut seperti ini dalam kotbah-Nya; Ia dengan jelas memperingatkan tentang hukuman yang akan diterima oleh para pendosa yang tak mau bertobat, baik itu (hukuman) di dunia maupun hukuman kekal di neraka. Meskipun tidak sempurna, rasa takut seperti ini perlu juga, terutama bagi mereka yang belum dewasa rohaninya.

Sejalan dengan pertumbuhan rohani yang semakin dewasa, jiwa akan bertumbuh dalam karunia takut akan Tuhan yang sempurna, karena relasi yang murni dengan Tuhan (semestinya) didasarkan pada kasih, bukan pada ketakutan (akan penghukuman). Takut akan Tuhan yang sempurna adalah takut dalam bentuk bakti, oleh karena rasa hormat dan kekaguman yang penuh terhadap Tuhan, oleh karena cinta yang dalam kepada Dia, sehingga seseorang (mau) melakukan kehendak Tuhan dan menghindari dosa, dilandasi oleh kasihnya kepada Tuhan, yang ia tahu penuh kebaikan dan layak menerima cinta kita. Ini serupa dengan kepatuhan seorang kanak-kanak terhadap orang-tuanya; kita mencintai Tuhan oleh karena Ia adalah Abba, Bapa bagi kita, sehingga kita tidak ingin melanggar Dia dengan perbuatan dosa, atau merusak relasi dengan-Nya dengan menolak rahmat-Nya.

Kita bisa membandingkan rasa takut akan Tuhan yang benar dan yang tidak benar dengan membaca ilustrasi dalam Injil Matius 25: 14-25. Dikisahkan ada tiga orang diberikan talenta oleh tuannya. Dua orang berhasil, satu orang gagal. Mengapa? Itu disebabkan perbedaan antara takut yang suci yang didasari cinta dan kepercayaan (kepada tuannya) seperti yang diperlihatkan oleh dua orang yang berhasil, dan takut yang tidak suci yang dipenuhi dengan kebencian dan ketidakpercayaan terhadap tuannya.

Cara Kerja Karunia Takut akan Tuhan, Manfaat dan Buah-Buahnya

Karunia takut akan Tuhan bekerja dengan memotivasi seseorang melalui 3 cara: 1) membuat jiwa semakin menyadari akan kebesaran Tuhan; 2) jiwa akan berduka atas segala bentuk perbuatan dosa, termasuk dosa kecil sekalipun dan mau melakukan penitensi atas dosa yang diperbuat; 3) berjaga-jaga dan berjuang mengatasi kelemahan agar terhindar dari dosa.

Kegunaan/manfaat dari karunia takut akan Tuhan adalah:

  1. Menyempurnakan kebajikan pengharapan. Melalui karunia ini, jiwa akan semakin menghormati Tuhan sebagai Tuhan, mempercayakan diri pada kehendak Allah, dan melabuhkan seluruh hidupnya di dalam Dia. Dan terlebih, ia ingin dipersatukan dengan Tuhan selamanya di Surga.
  2. Menyempurnakan kebajikan penguasaan diri, yang membuat seseorang mengusahakan untuk menggunakan segala sesuatu dengan bijaksana dan secukupnya, tidak berlebihan, terutama yang berhubungan dengan kenikmatan indrawi. Penguasaan diri berhubungan dengan karunia takut akan Tuhan karena kesadaran dan rasa hormat seseorang terhadap kekudusan Tuhan mendorongnya sebagai seorang ciptaan untuk memberikan kemuliaan pada Tuhan melalui pengendalian diri dalam perbuatan dan keinginan. Contoh: mengendalikan diri dengan menjaga kekudusan dari cinta perkawinan, menjaga diri terhadap godaan demi kesucian sebelum perkawinan.
  3. Merupakan sarana terbaik untuk mengatasi dosa kesombongan. ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati’ (bdk. Yak 4:6). Karunia takut akan Tuhan meningkatkan rahmat dengan mendorong kerendahan-hati.
  4. Merupakan landasan pacu menuju karunia-karunia Roh Kudus yang lain. Seperti yang tertera dalam Kitab Suci: “Permulaan hikmat/ kebijaksanaan adalah takut akan Tuhan.” (Amsal 9:10) “Melalui takut akan Tuhan (fear of the Lord), kita meningkat ke kesalehan (piety), dari kesalehan ke pengenalan akan Tuhan (knowledge), lalu akan memperoleh kekuatan (fortitude), kemudian ke nasehat (counsel), lalu ke pengertian (understanding), dan terus ke kebijaksanaan (wisdom), dan demikianlah oleh tujuh karunia Roh Kudus, terbukalah bagi kita pintu menuju kehidupan Surgawi.” (Pope St Gregory, Homilae in Hiezechihelem Prophetam, II 7,7).

Santo Bonaventura mengidentifikasikan tiga buah-buah dari takut akan Tuhan: 1) Pengudusan atau pemurnian hati yang sempurna; 2) Sanggup untuk selalu taat kepada Tuhan; 3) Kesempurnaan di dalam percaya kepada Tuhan.

Cara Mengembangkan Karunia Takut Akan Tuhan

Cara mengembangkan karunia takut akan Tuhan: 1) doa pribadi dan mengikuti misa secara teratur; 2) memeriksa batin secara teratur dan sungguh-sungguh; 3) menerima Sakramen Tobat secara teratur; 4) merenungkan/meditasi tentang cinta kasih dan kebesaran Tuhan.

Sumber: 1)Cathecism of the Catholic Church; 2)Gifts of the Holy Spirit, Fr William Saunders; 3)Growing in the Fear of the Lord, Fr Charles Pope; 4)St Bonaventure and the Fear of the Lord, Andrew M. Greenwell Rhema: “Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan Tuhan orang menjauhi kejahatan.” (Amsal 16:6)

Pedoman Hidup KTM no 26:

Hidup di hadirat Allah adalah jalan menuju persatuan dengan Allah, tetapi sekaligus sudah merupakan realisasi awal dari persatuan itu. Semakin intensif kita hidup di hadirat Allah, semakin dalam persatuan kita dengan Allah. Beberapa saudara dan saudari kita menjadi besar di hadapan Allah, karena mereka dengan sungguh-sungguh hidup di hadirat Allah ini, seperti umpamanya Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Elisabeth dari Trinitas dan Laurentius dari Kebangkitan.

Sharing :

  1. Apakah engkau merasa selama ini telah menghayati sikap takut akan Tuhan yang tepat? Sharingkanlah sikap takut akan Tuhan yang engkau hayati dalam hidupmu.
  2. Sharingkanlah bagaimana karunia takut akan Tuhan membantumu dalam pertumbuhan rohanimu.
  3. Sharingkanlah bagaimana hubunganmu dengan orang-tuamu mempengaruhi sikap takut akan Tuhan dalam hidupmu.

admin