SETIA MELAYANI DALAM KTM

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Luk 16:10)

Pembukaan

Kisah Nick Vujicic, Tanpa Tangan Tanpa Kaki

Nick adalah anak pertama dari sebuah keluarga Serbia, yang tinggal di Australia dengan gangguan Tetra-amelia langka: tanpa kaki, hilang kedua lengan dari bahu, dengan dua kaki kecil dan salah satunya memiliki dua jari kaki. Hidupnya penuh dengan kesulitan dan kesulitan, salah satunya dilarang oleh Negara bagian Victoria untuk menghadiri sekolah karena cacat fisik. Namun tak lama, undang-undang tersebut berubah dan Nick menjadi siswa cacat pertama yang masuk ke sekolah umum. Ia belajar menulis dengan menggunakan dua jari di kaki kirinya, ia berjalan dengan alat peluncur khusus, jempol kaki yang ia gunakan sebagai pegangan. Dia juga belajar mengetik menggunakan tumit dan kaki, melemparkan bola tenis, main drum pedal, menyisir rambut, sikat gigi, menjawab telpon, mencukur, minum, serta berenang.

Sekalipun banyak hal ia bisa pelajari dan lakukan, ia mengalami penindasan yang cukup berat dan membuatnya depresi di sekolah. Sehingga pada usia 10 tahun, ia berusaha menenggelamkan dirinya di dalam air, tapi ia gagal, orang tuanya juga mendukungnya dalam berbagai hal serta menunjukkan kasihnya yang tak terhingga. Mulai saat itu, Nick mulai menyadari bahwa keadaan dirinya dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, dan ia mulai bersyukur kepada Tuhan karena ia hidup. Sejak saat itu, banyak perubahan mulai terjadi, Ia terpilih sebagai kapten di sekolah, saat kuliah, ia bekerja dengan dewan mahasiswa dalam berbagai acara penggalangan dana bagi badan amal lokal dan kampanye cacat. Ketika berumur 17 tahun, ia mulai memberi ceramah di kelompok doanya, dan akhirnya mendirikan organisasi non-profitnya, Life Without Limbs. Pada tahun 2005, Nick dinominasikan sebagai “Australian Man of The Year” award. Sekarang Nick menjadi pembicara inspirasional internasional, ia telah berbicara kepada lebih dari 3 juta orang sejauh ini, di lebih dari 24 negara di lima benua. Pada tahun 2012, Nick menikah dengan wanita idamannya, dan mereka dikaruniai 4 orang anak yang normal dan sehat.

Pokok Pembahasan

Dari sepenggal cerita di atas, hal apa saja yang memampukan Nick untuk tetap setia dalam meniti kehidupan?

1. Iman, pengharapan, dan kasih
Iman yang dimiliki orang tua Nick, telah menyelamatkan Nick dari maut yang ia rencanakan. Iman dan pengharapan di dalam Tuhan, yang telah diajarkan oleh kedua orang tua Nick, yang telah menjadikan Nick tumbuh, berkembang dan dapat menjadi orang sukses di balik keterbatasannya. Dalam keterbatasannya, Nick ingin menginspirasi banyak orang, dan cita-cita mulia inilah yang menghantarkan Nick mencapai kesuksesan hidup di dalam karirnya. Kasih sayang orang tua, telah memampukan Nick untuk – berbagai rintangan dalam kehidupannya, kasih sayang yang sama pula menjadi dasar dalam setiap karya dan pelayanan yang Nick bagikan. Hingga ia dipertemukan dengan wanita idamannya, dan mereka dikarunia 4 orang anak yang sehat dan normal.

2. Kesetiaan/ketekunan
Kesetiaan yang telah diteladannya dari kedua orang tua nick, dari merawatnya sejak bayi hingga tumbuh dewasa, telah menjadi bukti nyata bagi Nick akan pentingnya arti kesetiaan dalam sebuah kehidupan. Tidaklah mudah bagi seorang cacat tanpa kaki dan tangan untuk belajar menulis, mengetik, bermain drum, menyisir rambut, bahkan berenang. Namun semua itu mampu ia lakukan, berkat ketulusan dan kasih sayang orang tuanya yang begitu tulus dan tanpa pamrih bagi anak yang mereka kasihi. “Kesetiaan itu tidak perlu dicari, dia akan kamu dapatkan ketika kamu mencintai dan menyayanginya dengan tulus” (NN).

Bila Nick dan keluarganya, dimampukan untuk setia dalam kehidupan bersama Tuhan sang pencipta, mereka mampu melewati masa-masa kelam hingga mendapatkan mahkota kebahagiaan, bagaimana dengan kita, khususnya kesetiaan kita dalam pelayanan bagi komunitas yang telah kita ikuti, KTM?

Apa yang bisa kita lakukan jika kita mengalami konflik, kebosanan, tidak ada semangat lagi dalam pelayanan di KTM?

1. Berbicaralah dengan seseorang yang lebih dewasa dalam hal pelayanan
Mengeluarkan keluh kesah yang kita miliki, terkadang akan membantu juga untuk mencari tahu apa yang sebenarnya kita inginkan/harapkan. Selain itu, dalam berkeluh kesah, diharapkan kita juga bisa mencari seesorang yang lebih dewasa dalam hal pelayanan, sehingga nasehat ataupun yang diberikan bisa lebih dipertanggungjawabkan dan lebih bijak. Apabila seseorang belum bisa membantu atau kita belum merasa puas, tidak ada salahnya kita mencari teman sharing yang berbeda, sehingga kita bisa mendapatkan berbagai sudut padang.

2. Motivasi pelayanan dalam KTM
Tak ada salahnya juga kita melihat kembali, apakah motivasi awal kita mengikuti KTM? Apakah motivasi itu adalah motivasi yang telah bersifat untuk jangka panjang, tidak perlu diubah lagi sesuai dengan sikon kehidupan yang berubah-ubah ataukah motivasi tersebut sifatnya hanya sementara? Bisa jadi, motivasi awal kita merupakan motivasi yang bersifat sementara, jadi jika saat anda memiliki kegalauan untuk tetap setia dalam pelayanan di KTM karena motivasi itu sudah tidak sesuai, coba renungkan kembali, dan carilah motivasi yang bersifat jangka panjang. Misal: untuk mengenal Allah lebih lagi, untuk membantu diri saya mencapai kekudusan, dll.

3. Mintalah pentunjuk ke Tuhan
Sudahkah kita bawa kebimbangan, kegalauan yang kita hadapi dalam doa? Di balik setiap masalah, di saat kita menghadapi persimpangan, Tuhan hadir dan Tuhan memiliki rencana yang indah bagi setiap kita. Alangkah baiknya jika dalam perjalanan ini pula, kita selalu meminta pentunjuk dari-Nya, supaya jalan yang kita pilih tidak salah. Praktekkanlah discernment, jika memungkinkan.

4. Berdamailah dengan situasi tersebut
Saya sangat terkesan oleh sepenggal doa Reinhol Neibur yang berbunyi demikian, “Tuhan, berilah kami ketabahan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa kami ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa kami ubah, dan berilah kami hikmat untuk membedakan kedua-duanya.” Kita tidak diminta untuk duduk diam dan meninggalkan KTM begitu saja karena perbedaan-perbedaan yang ada, namun secara bijak, kita diminta untuk bisa membedakan, hal-hal apa saja yang harus kita terima, dan hal-hal apa saja yang bisa diperjuangkan untuk menjadi lebih baik.

Di balik kesetiaan terhadap pelayanan di KTM, apa yang dapat kita ambil hikmahnya?

1. Kesetiaan menghasilkan kasih Allah tercurah dalam diri kita.
Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita , karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. (Rm 5:3-5)

2. Meningkatkan kedewasaan iman
Seperti ayat di atas, Rm 5:3-5, sebuah kesetiaan akan membuat seseorang tahan uji. Hal ini juga di dalam hal iman, dalam hal rohani. Bagi seseorang yang semakin tahan uji, orang itu akan semakin bijaksana, imannya semakin dikuatkan, dan bisa memberikan inspirasi/teladan bagi setiap orang yang ia jumpai.

3. Belajar untuk semakin menyerupai Yesus/menuju kepada kekudusan
Tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini, dan tak jarang kita menemui konflik di berbagai hal, termasuk di dalam KTM. Melalui konflik dan perbedaan inilah kita bisa belajar untuk semakin rendah hati, belajar untuk mendengarkan kehendak Allah, belajar untuk mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi, belajar untuk semakin bijaksana, dan akhirnya kita pun akan belajar untuk hidup semakin kudus di hadapanNya.

Penutup

Menjadi kudus adalah panggilan dari setiap umat Kristiani, dan inilah tujuan akhir hidup kita supaya kelak bisa kembali tinggal bersama-sama di pelataran rumah Allah. Maukah kita belajar bersama KTM sebagai komunitas yang mendidik, membesarkan, dan menjadi keluarga kedua kita hingga akhir hayat?

Mother Teresa mengatakan, “Tuhan tidak memanggilku untuk mengejar kesuksesan, namun Ia memanggilku untuk SETIA kepadaNya”, bagaimana dengan kita?

Sharing

1. Apa yang menjadi motivasi diri kita bergabung dalam KTM?
2. Sudahkah anda mencintai dan menyayangi KTM dengan tulus/tanpa pamrih? Sharingkan!
– Jika belum, apa yang sekiranya sel komunitas anda bisa bantu, supaya anda lebih bisa mencintai lebih tulus?
– Jika sudah, tips apa yang bisa anda bagikan ke anggota sel yang lain?
3. Masihkah kita sering berpaling ke komunitas lain, baik untuk mencari kepuasan, belajar dari komunitas lain, ataupun mencari teman?
– Jika iya, apa yang kita cari di sana? Perbaikan apakah yang bisa dilakukan ke depan oleh KTM?
4. Adakah hal-hal lain yang masih dapat kita perbuat bagi KTM?
5. Apa impinan/harapan anda jika anda mau terus tumbuh dan berkembang bersama KTM?

Pedoman Hidup KTM 28:

Bila engkau sungguh-sungguh hidup di hadirat Allah dan hanya berusaha berkenan kepada Dia saja, janganlah takut, bahwa engkau akan melalaikan tugas atau tanggung jawab yang diberikan kepadamu. Tidak. Tuhan sendiri akan mengingatkan engkau apa yang harus kaulakukan. Bukankah untuk setiap pikiran dan perbuatan baik, kita memerlukan rahmat aktual ? Dari dirimu sendiri engkau bahkan tidak mampu menimbulkan satu saja pikiran yang baik, apalagi melakukan pekerjaan baik. “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan (artinya, kemampuan untuk menginginkan sesuatu yang baik), maupun pekerjaan (karya kasih) menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Dan rahmat ini bukan lain daripada karunia Roh Kudus sendiri. Karena itu, bila engkau sungguh -sungguh hidup di hadirat Allah tanpa mengingat dan memikirkan apa-apa kecuali Allah saja, setiap saat Roh Kudus akan mengilhami dan mendorongmu untuk mengingatkan engkau akan apa yang harus kaulakukan, apa yang harus kaukatakan. Seperti janji Tuhan Yesus sendiri: “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10: 19-20, bdk Mrk 13:11; Luk 12:12).

Tetapi Roh tidak hanya mengilhami kita pada saat-saat yang sulit, melainkan setiap saat. Bukankah seperti yang dikatakan Santo Paulus: “Anak Allah ialah mereka yang dipimpin Roh Allah “(Rom 8:14). Terjemahan yang lebih tepat sebenarnya ialah: “yang digerakkan oleh Roh Allah”. Dan bukankah Tuhan Yesus sendiri juga dengan tegas bersabda: “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26).

admin