SEXUALITAS DALAM PANDANGAN GEREJA KATOLIK

“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging”(Mat 19:5)

Pendahuluan

Dalam hidup bermasyarakat dewasa ini, kita mendengar beberapa kabar mengenai perceraian, kekerasan sexual, penyimpangan sexualitas, bahkan anak muda terlibat dengan pergaulan bebas. Ada juga yang jatuh ke dalam dosa pornografi dan mansturbasi. Semua kejadian tersebut merupakan sebuah tanda bahwa masih banyak manusia yang tidak menyadari panggilan luhur Allah dalam sexualitas sehingga mereka hanya mencari kenikmatan diri sendiri saja, tetapi tidak sampai pada makna terdalam sehingga salah jalan, bahkan menjadi budak dari dosa. Melalui VD kali ini kita akan membahas mengenai makna sexualitas dalam pandangan gereja sehingga kita tidak jatuh dalam dosa ketidakmurnian tersebut.

Tujuan dari sexualitas

Dalam katekismus Gereja Katolik, sexualitas ini diarahkan kepada panggilan menuju kemurnian. “Kemurnian berarti integrasi seksualitas yang membahagiakan di dalam pribadi dan selanjutnya kesatuan batin manusia dalam keberadaannya secara jasmani dan rohani. Seksualitas, dalamnya nyata, bahwa manusia juga termasuk dalam dunia badani dan biologis, menjadi pribadi dan benar-benar manusiawi, kalau digabungkan ke dalam hubungan pribadi dengan pribadi, dalam penyerahan timbal balik secara sempurna dan tidak terbatas oleh waktu, antara suami dan isteri. Dengan demikian kebajikan kemurnian menjamin sekaligus keutuhan pribadi dan kesempurnaan penyerahan diri”. KGK 2337 Dalam pernyataan tersebut kita dapat mengambil beberapa inti yang penting :

Integrasi antara jasmani dan rohani Di dalam katekismus ini kita disadarkan bahwa sexualitas bukan hanya semata mata sebuah aktivitas jasmani belaka. Tetapi harus disertai integrasi dengan rohani supaya dapat membawa kebahagiaan. Oleh karena itu kita bisa melihat realitas pernikahan yang hancur yang diakibatkan hanya didasarkan keinginan biologis dan hanya didasari oleh kesenangan jasmani tanpa memperhatikan nilai rohani. Sebagai contoh, menjalin hubungan dengan pasangan orang lain, melakukan mansturbasi, menonton pornografi dan sebagainya. Dimana yang dikejar adalah kesenangan jasmani saja. Sedangkan secara rohani bertentangan dengan perintah Tuhan : “Jangan berzina” (Kel 20:14; UL5:18) “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya”. (Mat 5:27-28).

Lalu apa sebenarnya tujuan dari sexualitas tersebut? Di dalam Kejadian 1:28 Tuhan memberikan tujuan dari sexualitas “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. Dan secara lebih detail dituangkan melalui gerejanya “Seksualitas menyentuh segala aspek manusia dalam kesatuan tubuh dan jiwanya. Ia terutama menyangkut kehidupan perasaannya, kemampuan untuk mencintai, dan untuk melahirkan anak, dan lebih umum, kemungkinan untuk mengikat tali-tali persekutuan dengan orang lain”. Jadi sexualitas menyangkut juga : perasaan untuk membahagiakan pasanganya, kemudian berlandaskan cinta kasih yang tulus tanpa pamrih, mau berkorban, tanggung jawab untuk melahirkan anak dan membesarkanya, baik secara material, pendidikan anak, perkembangan anak sampai dewasa, dan juga kesetiaan dengan pasangan seumur hidupnya.

Ciri khas sexualitas benar

Dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan “Kemurnian menuntut mempelajari pengendalian diri, yang adalah pendidikan menuju kebebasan manusia. Alternatifnya jelas: atau manusia itu tuan atas nafsunya dan dengan demikian memperoleh perdamaian, atau ia menjadi hambanya dan dengan demikian tidak bahagia. Bdk. Sir 1:22. “Martabat manusia menuntut, supaya ia bertindak menurut pilihannya yang sadar dan bebas, artinya: digerakkan dan didorong secara pribadi dari dalam, dan bukan karena rangsangan hati yang buta, atau semata-mata karena paksaan dari luar. Adapun manusia mencapai martabat itu, bila ia membebaskan diri dari segala penawanan nafsu-nafsu, mengejar tujuannya dengan secara bebas memilih apa yang baik, Serta dengan tepat guna dan jerih payah yang tekun mengusahakan sarana-sarananya yang memadai” (GS 17). “KGK 2339 Melalui ajaran gereja kita dapat simpulkan bahwa pengendalian diri menjadi ciri khas utama dari sexualitas yang benar. Hal ini dituangkan dalam menjaga kemurnian sebelum menikah, mengendalikan keinginan sexualitas sesuai dengan kondisi pasangan, menjaga kesetiaan tidak hanya dalam tindakan saja bahkan dalam pikiran pun dijaga kemurniannya.

Aplikasi dalam hidup kita

Sebagai kaum muda / yang belum menikah
Sadarilah bahwa walaupun belum menikah, kita sudah wajib melatih diri dalam kemurnian melalui pengendalian diri. Sadari jika sexualitas bukan mengejar kenikmatan badani, tapi harus dijaga sampai Sakramen pernikahan. 1 Petrus 1:14-16, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. Dan sebagai modal yang baik supaya kehidupan berkeluarga akan bahagia dan saling setia. Mulailah mempraktekan nilai-nilai rohani 2 Tim 2:22, “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.” Utamakanlah ini di atas hawa nafsu. Hindarilah hal-hal yang membawa ketidakmurnian seperti pornografi dan melakukan mansturbasi.

Sebagai yang telah menikah
Utamakanlah kasih di atas keinginan akan sexualitas : “Kasih itu sabar ; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan” 1 Kor 13 : 4-8 Kendalikanlah pikiranmu dari keinginan mata yang tidak teratur sehingga tidak tergoda untuk tidak setia. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin bersama pasangan dan anak – anak yang Tuhan telah percayakan dengan penuh tanggung jawab.

Setelah membaca VD kali ini berkumpulah bersama teman, berdoalah sejenak kepada Tuhan supaya diberikan karunia Roh Kudus terutama pengendalian diri sehingga dapat mengutamakan nilai – nilai kasih di atas hawa nafsu. Tutuplah doamu dengan menyanyikan lagu :

Kasih pasti lemah lembut

Kasih pasti lemah lembut
Kasih pasti memaafkan
Kasih pasti murah hati
KasihMu, kasihMu Tuhan

Ajarilah kami ini saling mengasihi
Ajarilah kami ini saling mengampuni
Ajarilah kami ini kasihMu ya Tuhan
KasihMu Kudus tiada batasnya

Setelah menyanyikan lagu berdoalah mohon supaya Roh Kudus membimbing sharing supaya dapat terbuka dan mendapatkan pengertian baru bagaimana menjaga kemurnian dalam diri anggota dan apa yang harus diperbaiki dalam hidup untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan serta menerima Sakramen tobat.

Sharing:

1. Sharingkan bagaimana pendapatmu mengenai nilai–nilai cinta kasih di atas sexualitas?

2. Sharingkan kesulitan apa yang engkau hadapi dalam menghadapi kemurnian dan langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk hidup dalam kemurnian tersebut ? Sharingkanlah pengalamanmu

Thema ayat minggu ini

2 Tim 2:22, “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”

Pedoman hidup KTM 30 :

Janganlah kaupikirkan dan kauingat masa lampaumu, kecuali untuk mengenangkan kasih Allah yang telah kauterima dan untuk bersyukur kepadaNya. Juga untuk penyembuhan batinmu bila masih ada luka-luka batin yang belum sembuh, tetapi hal itu hanya sejauh diperlukan untuk penyembuhan saja. Sesudah itu segeralah kembali hidup pada saat ini di hadapan Allah, penuh iman dan cintakasih, hidup hanya bagi Tuhan saja.

admin