Berkata-Kata dalam Bahasa Roh
(Kis 2 : 1 – 13)

Pengantar

Karunia ini biasanya diperoleh setelah seseorang mengikuti Retret Awal atau Seminar Hidup Dalam Roh Kudus (SHDR). Bagi orang yang belum menerimanya, karunia yang satu ini agak sulit untuk dipahami. Beberapa dari mereka bahkan menyangka seperti orang mabuk atau kesurupan (ay. 13). Memang demikianlah keadaannya, sejak kisah para rasul sampai sekarang karunia yang satu ini memang cenderung menimbulkan perdebatan. Bahasa Roh sudah ada sejak zaman para rasul, yaitu pada saat peristiwa Pencurahan Roh Kudus atas para rasul atau peristiwa Pentakosta (Kis 2:1-13). Dan, ternyata peristiwa itu tidak hanya berhenti pada zaman itu saja, tetapi masih berulang sampai pada saat ini, di mana pada saat pencurahan Roh Kudus seringkali ada tanda yang menyertainya, yaitu munculnya bahasa roh seperti juga yang dialami oleh para rasul.

Apa Manfaatnya?

Seseorang yang berdoa di dalam bahasa Roh membangun dirinya (1 Kor 14:4) membawanya ke pertobatan sejati dan menumbuhkan iman serta pengenalan akan Allah. Bentuknya bisa bermacam-macam seperti kerinduan untuk membaca kitab suci, mempelajari ajaran Gereja, semangat untuk melayani, atau setia meluangkan waktu dalam doa-doa pribadi, keinginan untuk memperbaiki diri secara terus-menerus. Yang pasti adalah karunia ini membawa seseorang ke dalam pengalaman akan kasih Allah sehingga bisa mendorongnya untuk membalas cinta kasih Allah itu melalui semangat pengorbanan diri. Konsekuensinya orang tersebut akan menghasilkan buah-buah Roh Kudus seperti yang tertulis pada Galatia 5:22: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Karunia berdoa di dalam Roh ini merupakan pemenuhan janji Rom 8:26, “Demikianlah juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan”. Seringkali ketika berdoa pribadi atau mendoa-kan orang lain, kita tidak tahu harus mengatakan apa. Maka karunia ini akan sangat berguna karena Roh Kudus sendiri membantu kita berdoa.

Apa Saja Jenisnya?

Secara garis besar terdapat 3 macam karunia berkata-kata dalam bahasa Roh ini, yaitu:

  1. Merupakan doa pribadi, dimana Roh Kudus berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan yang tak terucapkan (Rm 8:26) sehingga tidak memerlukan interpretasi untuk diketahui maknanya. Apabila didoakan secara bersama-sama tetap akan terdengar indah.
  2. Merupakan perkataan dalam bahasa lain (salah satu bahasa di dunia), yang sebelumnya tidak diketahui oleh sang pembicara, yang dapat dimengerti oleh yang mendengarkannya, karena sesuai dengan bahasa yang dipergunakan oleh daerah asal pendengar (bdk. Kis 2:7-11).
  3. Merupakan nubuat, perkataan dalam bahasa yang bukan salah satu bahasa di dunia. Bahasa Roh ini memerlukan interpretasi, entah dari orang yang mengatakannya atau dari orang lain, dengan maksud membangun umat (bdk. 1 Kor 14:5, 13), sebab tanpa interpretasi maka umat yang hadir tidak mengerti. Untuk maksud inilah Rasul Paulus berkata dalam pertemuan umat, setidaknya dua atau tiga mengucapkan doa bahasa Roh, dan dilanjutkan dengan interpretasinya (bdk. 1 Kor 14:27, 29).

Dalam pertemuan sel Komunitas Tritunggal Mahakudus biasanya yang digunakan adalah jenis yang pertama. Walaupun tidak menutup kemungkinan jenis yang ke-2. Jika tidak ada yang menginterpretasikan bahasa Roh ini, menurut Rasul Paulus, lebih baikdigunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh semua orang, untuk membangun iman umat yang hadir (bdk. 1 Kor 14:19). Oleh karena itu, memang Rasul Paulus mendorong agar ibadat bahasa roh ini diadakan dengan tertib, silakan lihat topik Perlu Diwaspadai.

Penafsiran bahasa Roh ini bukan suatu ilmu yang bisa dipelajari, namun merupakan karunia Tuhan. Karunia menafsirkan bahasa Roh ini dihubungkan dengan karunia bernubuat (bdk. 1 Kor 12:10; 14:5). Rasul Paulus berkata, “Usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang berkata-kata dalam bahasa Roh”. (1 Kor 14:39)

Perlu Diwaspadai

Karunia berbahasa roh sangat erat kaitannya dengan Pembaharuan Karismatik sehingga ada kecenderungan untuk menganggap bahwa seluruhnya terfokus pada karunia yang satu ini. Beberapa orang yang telah menerima karunia ini cenderung untuk melebih-lebihkannya bahkan timbul anggapan bahwa orang yang belum atau tidak bisa berdoa dalam bahasa roh berarti belum mendapatkan pencurahan Roh Kudus. Kadangkala terjadi ketika dalam pertemuan sel masing-masing anggotanya saling menonjolkan diri ketika berdoa masuk ke sesi penyembahan dan bersama-sama berdoa dalam bahasa roh. Rupanya fenomena ini bukan saja terjadi sekarang namun sudah ada sejak zaman para rasul di Korintus sehingga Santo Paulus memperingatkan jemaat di sana. Coba kita simak penjelasan yang diambil dari Kitab Suci edisi Pastoral Katolik ini:

1 Kor 14:1

Sepertinya pertemuan-pertemuan di Korintus kacau balau. Umat tidak menunggu giliran mereka untuk berbicara, tetapi semua berbicara pada waktu yang sama, terutama para wanita. Paulus mengundang mereka untuk menutup mulut. Mereka yang memiliki karunia yang spektakuler merasa lebih penting dan tidak menghormati peraturan yang dasariah. Ada beberapa yang berpura-pura mendapat ilham, mereka berbicara dan bertindak secara aneh dan kadang-kadang memalukan.

Santo Paulus lebih menekankan pada karunia yang menguatkan dan membangun Gereja. Kita membangun pada saat kita menolong orang lain untuk bertumbuh, menjadi lebih baik dan bersatu. Apa yang membuat seseorang menjadi lebih baik adalah kasih, bukan penggunaan karunia-karunia yang luar biasa seperti: mengadakan mukjizat, berbahasa roh dan kegiatan lain semacam itu.

Yang terpenting dari semuanya adalah ketika kita memiliki karunia berkata-kata dalam bahasa roh ini bagaimana kita bertumbuh dan menghasilkan buah atau tindakan kasih yang nyata. Apakah kita semakin rendah hati? Apakah kita semakin mencintai keluarga, saudara/i kita yang di sel atau lingkungan? Apakah kita lebih perhatian terhadap sesama? Sebagai penutup, baik sekali apabila kita simak khotbah St. Anton

Pembacaan dari Khotbah Santo Antonius dari Padua

“Bahasa Menjadi Hidup Kalau Berbicara Lewat Perbuatan”

Orang yang hidup penuh Roh Kudus berbicara dalam berbagai macam bahasa. Berbagai macam bahasa ini adalah berbagai macam cara untuk memberi kesaksian tentang Kristus, seperti rendah hati, miskin, taat dan sabar. Dengan demikian kita berbicara, kalau kita melakukan itu semua terhadap sesama. Bahasa menjadi hidup, kalau berbicara lewat perbuatan. Kata-kata sudah cukup, hendaklah sekarang perbuatan yang berbicara. Kita ini limpah dengan kata-kata tetapi kosong dalam perbuatan. Ini sebabnya kita kena kutukan Tuhan, yang mengutuk pohon ara, karena Ia tidak menemukan buah, melainkan hanya dedaunan saja. Ini sudah menjadi hukum bagi pengkhotbah, kata Santo Gregorius, bahwa ia harus melakukan apa yang diajarkan. Tidak ada gunanya orang berbangga mahir hukum, kalau perbuatannya bertentangan dengan ajarannya.

Para Rasul, mereka berbicara seperti digerakkan oleh Roh Kudus. Berbahagialah orang yang berbicara di bawah ilham Roh Kudus, dan tidak menuruti hikmah roh manusia. Ada orang yang berbicara mengikuti rohnya sendiri; mereka meminjam kata-kata orang lain dan meneruskannya sebagai kata-kata sendiri, dan menerima kehormatan untuk dirinya. Menunjuk kepada orang-orang ini dan kepada orang-orang lain seperti mereka ini Tuhan bersabda dalam Kitab Yeremia,

“Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang memakai lidahnya sewenang-wenang untuk mengutarakan firman ilahi. Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman TUHAN, dan yang menceritakan-nya serta menyesatkan umatKu dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman TUHAN. (Yer 23:31-32)

Marilah kita berbicara, seperti kita digerakkan oleh Roh Kudus. Marilah kita mohon kepada-Nya dengan rasa sungguh dan rendah hati untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, sehingga kita dapat menggenapi hari Pentakosta dengan penyempurnaan kelima indera kita, dan menepati sepuluh perintah Allah. Marilah kita mohon rasa tobat mendalam, dan mohon lidah api menyala, untuk menyatakan iman yang benar. Demikian kita diilhami dan diterangi oleh sinar cahaya para suci, hingga kita dapat dianggap pantas untuk memandang Tritunggal mulia, satu Allah.

Sharing

Apakah Anda sudah memperoleh karunia berbahasa roh?
Apa manfaat yang Anda rasakan, selama ini? (bagi yang sudah)
Bagaimana menurut pendapatmu tentang teman-teman selmu yang sudah menerima karunia berbahasa roh maupun yang belum? (bagi yang sudah maupun yang belum)

Referensi:

  1. Bahasa ROH; oleh Yohanes Indrakusuma O.Carm – Penerbit Kanisius
  2. Tentang Bahasa Roh <http://www.katolisitas.org/tentang-bahasa-roh>
  3. Bahasa Roh Menurut St. Antonius dari Padua <http://www.algonz.org/front/artikel/katekese/475-bahasa-roh-antonius-padua>

admin