Mengenalkan Kristus Kepada Anak-anak

“Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang aku ajarkan kepadamu atas perintah Tuhan… supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan Tuhan, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
(Ul. 6:1-2. 6-7)

Pembukaan

Sebagai bahan permenungan awal, mari kita simak dua kisah di bawah ini. Kisah sepasang suami istri Louis Martin dan Zélie Guérin dan kisah bagaimana seorang ayah mendidik anaknya yang berusia 3 tahun.

Santo Louis Martin dan Santa Zélie Guérin, orang tua dari Santa Theresia Lisieux.

Louis Martin dan Zélie Guérin adalah sepasang suami istri yang taat beribadah dan sangat mencintai Allah. Baik Louis dan Zélie pada saat mudanya mereka berniatan menjadi biarawan dan biarawati, namun karena tidak dapat menguasai bahasa Latin, Louis tidak diterima; sedangkan karena alasan penyakit pernafasan, Zélie juga tidak diterima untuk masuk ke dalam biara. Pada tahun 1858 mereka menikah, dan dalam pernikahan itu mereka dikaruniai 9 orang anak, di mana 4 orang anak mereka meninggal di usia muda sebelum menginjak umur 6 tahun. Louis dan Zélie mendidik anak-anak mereka secara Katolik. Setiap hari mereka memulai hari dengan Misa harian pukul 05.30 pagi, mereka berpantang dan berpuasa, mengikuti doa-doa dalam Kalender Liturgi Gereja, serta mereka adalah keluarga penderma, secara rutin mereka mengunjungi orang-orang sakit dan orang-orang tua, serta mereka mengajak para tuna wisma untuk tinggal dan makan di rumah mereka.

Berkat didikan Louis dan Zélie, kelima putrinya memilih untuk menjadi biarawati dari ordo Karmelit di Lisieux, di mana salah satu anak mereka adalah Santa Theresia Lisieux. Dan akhirnya pada tanggal 18 Oktober 2015, Louis Martin dan Zélie Guérin dinobatkan sebagai Santo dan Santa oleh Paus Fransiskus

“When You Bring Children To Mass” https://youtu.be/7fYtjEDxy6Y
Video di atas harap ditonton bersama sebelum melanjutkan ke diskusi awal.

Renungan

Bandingkan ayat Ul. 6:1-2.6-7 dengan kedua cerita di atas, apakah ada kesamaan cara khususnya dalam hal mendidik anak, apakah yang dapat kita bisa petik dari kedua kisah di atas?

Mohon pembawa materi mencatat poin-poin penting yang bisa ditindak lanjuti sebagai bahan diskusi/sharing lanjutan setelah materi dibawakan.

Pokok Pembahasan

Apakah peranan orang tua terhadap anak-anaknya?

  1. Ortu menjadi teladan

    Kedua cerita di atas, kita dapat melihat bagaimana besarnya pengaruh cara mendidik dan teladan orang tua bagi anak-anaknya. Tanpa kasih, pengharapan dan iman dari Louis dan Zélie  mustahil kelima putri mereka bisa terpanggil untuk menjadi biarawati.

    Dari cuplikan video singkat, sang ayah dengan tekun, sabar, penuh mengharapan dan kasih mendidik anak kecil untuk dapat mengikuti Misa dengan baik, tanpa membawa mainan, makanan, masuk ke dalam Gereja.

    Sering kali orang tua lupa, tanpa memberikan contoh/teladan, akan sangatlah susah bagi anak untuk bisa memahami perintah yang diinstruksikan bagi mereka. Misal : setiap sore sang ibu meminta anak-anaknya untuk mandi, di saat sang ibu sudah selesai mandi. Namun berulang kali anak-anaknya menolak dengan alasan, masih ada waktu dan bisa dilakukan sebelum tidur. Tak disangka, sang ayah ternyata memiliki kebiasaan untuk mandi di malam hari, sebelum tidur, bukan pada sore hari seperti apa yang diminta oleh sang ibu. Tidak heran jika anak-anak mereka, menjadi bingung, dan susah untuk selalu mentaati perintah ibunya.

  2. Ortu sebagai pendidik dalam keluarga

    Mendidik anak-anak adalah tugas utama dari orang tua, karena sebagian besar waktu anak diluangkan di rumah, dari pada di tempat-tempat lain. Jika kita cermati kembali ayat-ayat dari kitab Ulangan di atas, kita diharapkan mengajarkannya kepada anak-anak setiap hari, dari bangun tidur hingga sebelum menutup mata untuk tidur di malam hari. Hal itu merupakan tugas kita sebagai orang tua. Bagaimana kita bisa menjadikan waktu-waktu yang ada, sebagai waktu berkualitas bersama anak. Masing-masing anak memiliki kegemaran mereka, ada yang senang mendengarkan cerita, ada yang suka untuk diajak bermain, ada juga yang suka melihat film. Semua kegemaran anak itu, dapat menjadi sarana kita memperkenalkan Kristus. Baik dari membacakan dongeng sebelum tidur, baik tidur siang atau tidur malam; kita juga bisa mengajak anak-anak menonton film cerita Santo/Santa/Nabi, sambil memberikan pengertian tentang nilai-nilai iman; selain itu, kita juga bisa mengajak anak-anak untuk selalu berdoa, di saat pagi hari setelah bagun tidur, sebelum dan sesudah makan, serta malam hari sebelum tidur.

  3. Orang tua Kristiani turut ambil bagian dalam 3 misi keselamatan Kristus

    Sebagai umat Kristiani, setelah kita dibaptis kita telah diperbaharui di dalam Kristus dan telah menerima Roh Kristus. Oleh karena itu, 3 misi utama Kristus, sebagai Nabi, Imam, dan Raja juga diberikan kepada umat Allah.

  • Sebagai Nabi: umat Allah dipanggil untuk selalu hidup dalam roh dan kebenaran, umat Katolik diajak untuk selalu aktif dalam karya pewartaan, baik dalam katekese dan memberikan kesaksian hidup
  • Sebagai Imam: umat Allah diminta untuk selalu menghidupi Sakramen dan Liturgi, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Umat Katolik juga dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, yaitu dengan mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati.
  • Sebagai Raja: umat Allah diajak untuk turut ambil bagian di dalam tugas pelayanan (diakonia), pelayanan pastoral, persaudaraan (koinonia), dll.

Hambatan-hambatan yang bisa terjadi

  1. Keterikatan terhadap gadget
    Di tengah maraknya gadget dan kecanggihan teknologi, tantangan orang tua dalam mendidik anak jauh lebih besar. Di satu sisi, memberikan gadget supaya anak-anak tidak berulah adalah sebuah hal yang sangat membantu apabila orang tua memiliki kesibukan. Namun di sisi yang lain, dengan seringnya memberikan gadget, anak semakin terikat dan bisa memicu sebuah kelekatan pada gadget tersebut. Dalam hal ini, orang tua harus dapat secara bijak mengajarkan bagaimana menggunakan gadget itu sebagai sarana pendidikan, bukan sebagai sarana pengisi waktu luang.
  2. Orang tua terlalu sibuk/kurang meluangkan waktu bagi anak
    Di jaman yang semakin marak dalam hal hedonisme dan konsumerisme, orang tua semakin memiliki banyak tuntutan khsusnya dalam hal finansial. Sehingga, semakin banyak pula keluarga yang kedua orang tuanya bekerja/mencari nafkah. Atau di sisi lain, ada juga orang tua yang tidak bekerja, namun karena dunia media sosial (medsos) yang luar biasa bisa menarik orang untuk menjadi sosialita, banyak pula orang tua yang tergabung dalam berbagai komunitas, sehingga waktu yang diluangkan bagi anak menjadi berkurang. Dalam hal ini, managemen waktu, serta memberikan waktu yang berkualitas bagi anak-anak sangat dibutuhkan.

  3. Kurangnya komunikasi dan keterbukaan
    Cara mendidik anak generasi sekarang sangatlah berbeda dibandingkan dengan era generasi Baby Boomers, generasi X, atau generasi Y. Maka dari itu, sebagai orang tua kita juga harus bisa mengimbangi pola pikir, budaya, dan tren yang sedang terjadi. Contohnya: anak-anak generasi sekarang, jika ditegur mereka dapat menyanggah jika apa yang kita ucapkan salah/kurang tepat, bukan hanya menerima kenyataan seperti di masa jaman generasi X; jika kita memberikan contoh yang salah, anak generasi sekarang akan berani menegur kita, dll. Dari kedua contoh di atas, sudah terlihat bahwa sebagai orang tua, kita pun juga harus semakin kreatif dalam mendidik, serta komunikasi dan keterbukaan juga menjadi kunci yang utama dalam menjalin kedekatan dengan anak

Apa saja yang dibutuhkan supaya kita bisa mengenalkan Kristus kepada anak-anak kita sejak usia dini?

  1. Iman, pengharapan, dan kasih
    Tanpa iman, pengharapan, dan kasih dari Allah, kita tidak akan dimampukan untuk melakukan tugas yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Jika memang kita merasa masih banyak yang berkekurangan, mintalah karena Allah sendiri yang akan memberikan setiap rahmat dan berkat yang kita perlukan.
  2. Ketekunan, ketaatan, dan komitmen
    Tanpa ketekunan, ketaatan, dan komitmen, akan menjadi sebuah hal yang mustahil kita bisa mendidik anak-anak kita sesuai yang kita harapkan. Sama halnya, seperti seorang olahragawan yang ingin menjadi juara dunia, namun malas mengikuti program latihan. Mungkinkah ia akan menjadi juara dunia?
  3. Dukungan dari pasangan (diharapkan sepasang suami istri tidak ada perbedaan cara mendidik)
    Poin terakhir ini terlihat cukup sepele, namun hal-hal tersirat ini menimbulkan keraguan bagi anak-anak kita. Sama seperti contoh di atas tentang sang ibu yang meminta anak-anaknya untuk mandi di sore hari. Terlihat sepele bukan? Tapi sering kali kita sebagai orang tua melakukan hal-hal ini tanpa kita sadari. Oleh karena itu, diharapkan bagi orang tua, untuk mendiskusikan serta mengambil kesepakatan bersama dalam hal mendidik anak, supaya tidak memberikan celah bagi anak untuk mengambil titik kelemahan orang tua, atau memilih cara pendidik yang dianggapnya lebih mudah dan menyenangkan dirinya.

Penutup

Sebagai bahan permenungan akhir, baca dan renungkanlah di bawah ini:

Anak adalah kualitas siapa dirimu:

  1. Jika anakmu TIDAK PERCAYA KEPADA ALLAH, itu karena engkau MERAGUKAN ALLAH.
  2. Jika anakmu KURANG MENGENAL ALLAH, itu karena engkau TIDAK PERNAH/KURANG BERCERITA tentang ALLAH.
  3. Jika anakmu ENGGAN BERDOA, itu karena engkau TIDAK KONSISTEN MENGAJAKNYA BERDOA.
  4. Jika anakmu MENCURI, itu karena engkau TIDAK MENGAJARINYA MEMBERI.
  5. Jika anakmu TIDAK MENGHARGAI ORANG LAIN, itu karena engkau  BERBICARA TERLALU KERAS (KURANG ADANYA KASIH DALAM PERKATAAN) kepadanya.
  6. Jika anakmu BERSIKAP KASAR TERHADAP ORANG LAIN, itu karena engkau SUKA MELAKUKAN KEKERASAN (KURANG ADANYA KASIH DALAM PERBUATAN) kepadanya.
  7. Jika anakmu TIDAK MEMILIKI CITA-CITA, itu karena engkau SERING MENCELANYA/KURANG MENGAJARI ARTI PENGHARAPAN DI DALAM TUHAN.

SHARING

1. Coba ingat-ingat kembali pengalaman anda dalam mengenalkan Kristus kepada anak!

  • Bila pengalaman anda belum membuahkan hasil yang berarti, coba sharingkan apa yang telah anda lakukan dan silahkan membuka ruang diskusi bersama supaya mendapatkan masukkan dari sesama anggota. Lalu, buatlah komitmen pribadi, perubahan apa yang akan anda lakukan setelah ini?
  • Jika sudah berhasil, pesan apakah yang bisa dibagikan anggota yang lain? Lalu, komitmen baru apa yang akan anda lakukan dalam memperkenalkan Kristus kepada anak-anak?

2. Apakah benar anak kita mencerminkan kualitas diri kita seperti gambar yang ada di atas?

  • Jika iya, coba sharingkan point mana yang menjadi teguran bagi diri anda? Lalu, perubahan apa yang akan anda perbuat sepulang dari sel?

Sumber:

Stefanus Tay, Tiga Misi Keselamatan Kristus: Sebagai Nabi, Imam, dan Raja, www.katolisitas.org/tiga-misi-keselamatan-kristus-sebagai-nabi-imam-dan-raja/

Pedoman hidup KTM 09 :

Sebelum melangkah lebih lanjut, baiklah engkau sadari, bahwa bukan engkau yang telah mencintai Allah, melainkan Allahlah yang lebih dahulu telah mengasihi engkau. Seperti kata Santo Yohanes: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang mengasihi Allah, melainkan Allahlah yang lebih dahulu telah mengasihi kita” (1Yoh. 4:10). Kalau engkau mencari Allah, sebabnya ialah, karena Allah telah lebih dahulu mencari engkau. Karena Allah adalah kasih (1Yoh. 4:16), Ia telah menciptakan engkau menurut gambar dan kesamaan-Nya (Kej. 1:26). Karena itu engkau harus benar-benar sadar, bahwa engkau berharga bagi Tuhan.” Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku mengasihi engkau, Aku memberikan manusia (Putera-Ku sendiri) sebagai gantimu” (Yes. 43:1.4). Kesadaran, bahwa Allahlah yang telah lebih dahulu mengasihi engkau, haruslah merupakan kebenaran dasar untuk hidupmu selanjutnya. Karena Allah telah lebih dahulu mengasihi engkau, maka engkau dijadikan mampu untuk mengasihi. “Kita mengasihi, karena Dia telah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh. 4:19). Mungkin saat ini engkau belum menyadari sungguh-sungguh kebenaran ini, namun kelak engkau akan lebih mengertinya.

admin