MISTERI KEMATIAN KRISTUS YANG MENGHIDUPKAN
(Matius 16:21-26)

Pada bacaan diatas Yesus dengan terus terang bahwa Ia harus mengalami penolakan dan penderitaan yang berujung pada kematian, dan pada akhirnya Ia akan bangkit pada hari ketiga. Kematian seseorang melalui suatu penderitaan dan hukuman mati bukanlah hal yang baik dan terhormat, bahkan di kalangan masyarakat selalu akan dianggap hina dan memalukan, bahkan bagi semua orang yang dekat dengan orang tersebut ikut menanggung rasa malu. Petrus yang waktu itu belum mengerti rencana kasih Allah dan kodrat ke-Allah-an Sang Guru menganggap penderitaan dan kematian yang disampaikan Yesus adalah hal yang buruk dan memalukan, meskipun Yesus sendiri telah menyampaikan akan bangkit pada hari ketiga. Tetapi nubuat akan kebangkitan itu serasa tertutup dan tidak berarti apa-apa karena penderitaan, hinaan dan kematian yang akan dialami Yesus. Karena itu Petrus menarik dan menegur Yesus.

Adalah hal yang wajar jika manusia menganggap kematian adalah akhir segalanya, karena indra manusia tidak dapat lagi mencerap keberadaan orang yang telah meninggal, dan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi setelah kematian. Kematian Sang Guru bukanlah hal yang diharapkan oleh para murid Yesus, pada waktu itu mereka sangat berharap Yesus adalah mesias yang mampu membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan Romawi. Karena alasan itulah Petrus menarik Yesus kesamping dan menegur Sang Guru atas perkataan-Nya itu. Kala itu Petrus benar-benar tidak tahu rencana besar Allah dibalik kematian Yesus. Warta kebangkitan pada hari ketiga yang disampikan Yesus seharusnya mejadi kabar sukacita dan kemenangan seakan-akan tertutup oleh bayang-bayang kematian. Bahkan nubuat nabi Yesaya tentang penderitaan yang harus ditanggung Sang Mesias (Yesaya 42, 49, 50, 53) dan meskipun Daud dalam mazmurnya juga telah menggambarkan drama penyaliban mesias (Mazmur 22) serta penegasan akan kebangkitanNya, tapi tetap saja Petrus dan murid-murid lain gagal dalam memahami apa yang dikatakan Yesus dalam bacaan diatas. Akhirnya kabar sukacita akan kebebasan dan kemenangan yang disampaikan Yesus tertutup oleh gelapnya bayang-bayang kematian Yesus. Yang ada dalam benak para murid, jika Yesus mati sebelum menjadi raja, maka yang mereka dapatkan hanyalah kegagalan. Walaupun mereka selalu mengikuti Yesus, tetapi mereka tidak tahu bahwa tugas yang diserahkan Bapa kepada Yesus adalah untuk mengalahkan dosa dan maut, bukan pembebasan politik seperti yang disangka kebanyakan orang Israel.

Saat ini setiap kali kita mendoakan doa “Aku Percaya” didalamnya terdapat misteri kematian Yesus Kristus, yaitu pada bagian “…Yang menderita sengsara pada pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat dan dimakamkan. Yang turun ke tempat penantian dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Lalu apa kaitannya antara kematian Yesus dengan kita yang hidup di jaman sesudah Yesus? Santo Thomas Aquinas mengajarkan ada empat hal yang berguna bagi kehidupan di sepanjang masa, yaitu:

  1. Memperkuat Pengharapan.
    Dengan wafat, turun ke tempat penantian dan bangkit pada hari ketiga Kristus memberikan harapan yang besar pada kita bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Bagi orang-orang yang percaya pada Yesus misteri kematian Yesus ini menyatakan bahwa Dialah yang Empunya kehidupan, karena maut tidak dapat menahannya di dunia orang mati, bahkan Dia membebaskan orang-orang benar yang tertahan dalam dunia orang mati akibat maut. Harapan besar yang kita peroleh saat ini adalah harapan bahwa kita yang percaya pada Yesus Kristus juga akan Dia bangkitkan pada waktu kita telah melewati pintu kematian.
  2. Membuat Orang Percaya Menghindari Dosa.
    Sewaktu Yesus masih tinggal di dunia bersama para murid-Nya, Dia pernah mengajarkan bahwa : “Pada akhir zaman Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api…” (Mat.13:49-50). Jadi mereka yang percaya pada Yesus pasti juga percaya pada semua perkataan-Nya dan akan berusaha sekuat daya untuk menjadi orang yang benar dan menghindari perbuatan-perbuatan jahat dan dosa.
  3. Mengingatkan Akan Kematian Manusia.
    Kematian Yesus seharusnya menjadi peringatan bagi kita. Seperti yang ditulis oleh nabi Yesaya: “Dalam pertengahan umurku aku harus pergi, ke pintu gerbang dunia orang mati, aku dipanggil untuk selebihnya dari hidupku.” (Yes. 38:10). Seringkali kita mendengar orang yang dalam hidupnya mengalami penderitaan berkepanjangan menggambarkan kehidupan yang dia jalani ‘bagai hidup di neraka’͛. Jika penderitaan hidup di dunia yang kita alami ini dikatakan seperti di neraka, lalu pernahkah kita bayangkan penderitan di neraka yang sesungguhnya? Karena itu peristiwa penderitaan dan kematian akan selalu mengingatkan kita agar jangan sampai kita kelak mengalami penderitaan di neraka yang sesungguhnya. Pemikiran ini hendaknya mengingatkan kita agar selalu berbuat yang baik dan benar menurut injil dan hati nurani serta menghindarkan kita dari dosa, sehingga kita selalu memiliki harapan akan kebahagiaan kekal bersama Yesus dan Bapa-Nya.
  4. Agar Manusia Mengikuti Teladan Kasih Kristus.
    Kristus telah memberikan teladan dengan turun ke tempat penantian untuk membebaskan sahabat-sahabatNya dari dunia orang mati dan memberi hidup bagi mereka. Dengan teladan yang Ia berikan itu, hendaknya kita juga melakukan hal yang sama, yaitu dengan mengikuti Dia turun ke tempat penantian dan membantu membebaskan jiwa-jiwa di tempat penantian, bagaimana caranya? Yaitu dengan berdoa bagi mereka yang masih berada di tempat penantian yaitu purgatorium atau api penyucian. Kita dapat membantu mereka dengan doa-doa kita, terutama dalam ekaristi, berderma dan berpuasa, kita dapat mempersembahkan silih bagi penghapusan denda dosa mereka yang masih ada di purgatorium. Teladan kasih inilah yang dapat kita teladani dari Kristus yang senantiasa mengasihi semua manusia. Karena hanya dengan perbuatan kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata yang mampu menghapuskan egoisme dalam diri kita.

Katolik senantiasa mengimani bahwa penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus adalah sungguh-sungguh terjadi dalam sejarah manusia, karena seperti yang dikatakan Santo Paulus ‘Jika Kristus tidak bangkit dari antara orang mati, maka sia-sialah iman kita” (1Kor.15:14). Banyak sekali kesaksian dan bukti sejarah tentang kebangkitan Kristus, baik itu kesaksian para murid dan Santo Paulus yang dikumpulkan dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, ataupun bukti-bukti sejarah lain yang dapat ditemukan dan masih ada hingga saat ini. Bahkan salah satunya adalah seorang sejarahwan Yahudi bernama Josephus yang hidup di tahun 37–100 menuliskan demikian dalam bukunya Jewish Antiquities : Pada saat ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana. Karena ia adalah seorang pelaku perbuatan yang luar biasa, seorang guru dari orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Dan ia mendapatkan pengikut baik dikalangan banyak orang Yahudi dan di antara banyak orang yang berasal dari Yunani. Dan ketika Pilatus, karena tuduhan yang dibuat oleh orang-orang terkemuka diantara kita, mengutuk dia untuk disalibkan, mereka yang telah mencintainya sebelumnya tidak berhenti mencintainya. Karena ia menampakkan diri kepada mereka pada hari ketiga, hidup lagi, sama seperti yang dibicarakan oleh para nabi Allah dan banyak hal-hal lain yang menakjubkan yang tak terhitung banyaknya telah dibicarakan tentang dirinya. Dan sampai hari ini suku Kristen, yang dinamai seturut namanya, tidak mati.”

Santo Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologica (ST III, q.53, a.1) juga menjelaskan bahwa ada lima alasan mengapa Kristus harus menderita, mengalami kematian dan bangkit pada hari ketiga, yaitu:

  1. Untuk menyatakan keadilan Allah.
    Kristus sudah rela taat pada kehendak BapaNya, menderita dan wafat, sudah selayaknya Dia ditinggikan oleh BapaNya dengan kebangkitanNya dari antara orang mati dengan penuh kemuliaan.
  2. Untuk memperkuat iman kita.
    Dengan kebangkitanNya, maka Kristus sendiri membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan yang empunya kehidupan, dan kematianNya bukanlah kekalahan, melainkan kemenangan yang membawa pada kehidupan. (1Kor.15:14)

  3. Untuk memperkuat harapan.
    Dengan kebangkitan Kristus, kita dapat mempunyai pengharapan yang kuat, bahwa pada saatnya nanti kita pun akan dibangkitkan oleh Kristus. (harap dibaca bersama 1Kor.15:12 dan Ayb.19:25,27)

  4. Agar kita dapat hidup dengan baik.
    Kebangkitan Kristus mengajarkan kita agar senantiasa hidup dalam hidup kita yang telah diperbaharui melalui pembaptisan, yaitu hidup dalam roh bukan dalam kedagingan kita. (harap dibaca bersama Rm.6:4)

  5. Menuntaskan karya keselamatan Allah.
    Karya keselamatan Allah tidak berhenti pada kematian Kristus di kayu salib, namun berujung pada kemenangan Kristus atas maut, yaitu kebangkitanNya.

Sharing:

  1. Bagaimana proses pertumbuhan iman kita sebelum dan sesudah kita bergabung dengan KTM. Adakah iman kita bertumbuh dan bagaimana iman kita bertumbuh?
  2. Apakah hidup baru bersama Roh Kudus yang kita jalani sudah membuahkan karya-karya kasih yang nyata bagi sesama disekitar kita seperti yang diteladankan kasih Kristus yang telah kita rasakan.

Pedoman Hidup no.12:

Kalau engkau telah datang kemari dan merasa, bahwa engkau yang telah memilih cara hidup ini untuk melayani Tuhan Yesus, ketahuilah, bahwa sesungguhnya Tuhan Yesuslah yang telah memanggil dan memilih engkau lebih dahulu. Bukan engkau yang memilih Dia, tetapi Dialah yang telah memilih engkau. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang telah memilih kamu” (Yoh 15:16). Bahkan sesungguhnya engkau telah dipilih Allah sejak sebelum jadinya dunia ini, seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus:

“Sebab di dalam Dia
Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan,
supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula
oleh Yesus Kristus
untuk menjadi anak-anak-Nya,
sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”
(Ef 1:4-5).

admin