Pendahuluan

Pada suatu hari ada seorang anak yang menjadi korban kenakalan temannya. Anak tersebut di bully/digosipkan yang tidak benar oleh temannya, dijauhi dan terkadang mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Di rumah ia menceritakan kepada orang tuanya. Orang tuanya telah membicarakan dengan gurunya, akan tetapi ia berpesan kepada anaknya “ampunilah mereka, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu “spontan anak itu berkata: jika saya melakukan hal tersebut, maka mereka tidak akan menyadari kesalahan mereka, mereka tidak akan tahu rasanya di perlakukan tidak adil. Kenapa saya tidak boleh membalas dendam. Saya merasa tidak adil! dengan kata lain saya merasa berduka. Mungkin kita pernah mengalami hal yang serupa dengan cerita singkat di atas. Saat melakukan firman Tuhan kita berduka. Kita merasa bahwa dunia yang menang. Ketidak-adilan. Kenapa kejahatan tidak dikalahkan. Lalu bagaimanakah kemenangan tersebut akan terjadi setelahnya ?

Tujuan

  1. Agar anggota tidak tawar hati saat menjumpai ketidak-adilan dalam dunia ini
  2. Agar anggota memiliki pengharapan bahwa walaupun ada ketidak-adilan akan tetapi akan ada pertolongan Tuhan
  3. Agar anggota menyadari bahwa kebaikan tetaplah menjadi sumber kekuatan, sukacita, damai dan tempat yang sangat nyaman bagi manusia.

Sebelum kita membahas lebih dalam mari kita baca dahulu Yoh 16 : 16 – 23  

Pada saat kita membaca firman tersebut. Bayangkan jika kita adalah para rasul. Saat itu para pengikut Yesus sedang ketakutan karena Yesus telah disalibkan. Mereka seperti seorang anak ayam yang kehilangan induknya. Bahkan kita bisa membayangkan ketakutan saat mereka dikejar oleh orang yang akan menganiaya pengikut Kristus.. Mereka bersembunyi dari kerumunan massa yang menolak Yesus. Di tengah kekhawatiran itu mereka menemukan penghiburan saat Yesus menampakkan diri. Akan tetapi Tuhan berfirman kepadanya “(16) Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku”.  Saat itu saya membayangkan bahwa para murid merasa bingung mengapa tidak lama lagi; mereka justru ditinggalkan oleh Yesus. Padahal mereka saat itu sangat membutuhkanNya. Hal ini dapat diumpamakan seperti kejadian-kejadian yang ada di dunia ini. Kita mungkin melihat ketidak adilan di mana-mana. Mungkin dapat melihat teror di berita-berita seperti kemungkinan perang dunia ketiga, kelompok yang rasisme dan suka menggunakan kekerasan, ketidak-adilan dalam hukum, penganiayaan terhadap kaum minoritas. Hingga ketidak-adilan dalam dunia kerja. Banyak kejadian-kejadian yang terjadi yang terkadang kita merasa bahwa mengapa hal ini terjadi. Bukankah Tuhan berkuas atas segala sesuatu? Mengapa hal ini dapat terjadi? Dan mengapa Ia mengizinkan hal tersebut? Mengapa kebaikan seolah-olah kalah dengan ambisi, kekuasaan dan kejahatan? Mungkin kita pernah berpikir demikian. Kita berduka dan kecewa.

Sikap kita dalam menghadapi dukacita.

Saat kita mengalami pengalaman tersebut, hal itu memang membuat kita kecewa, sedih. Lalu bagaimanakah kita dapat melihat kemenangan di balik semua peristiwa dukacita tersebut?  St. Petrus meyakinkan kita bahwa “Sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan… Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu”. (1Ptr 1:6-9). Coba bayangkan sejenak. Saat kita melakukan kesalahan atau berdosa, kita menyadari bahwa di dalam hati kita ada perasaan tidak enak, merasa bersalah, tidak tenang, gelisah, seperti ada yang menuntut dan mengejar kita.  KGK 1776: “Di lubuk hati nuraninya manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, tetapi harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jauhkanlah ini, elakkanlah itu. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu,… Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya” (Gaudium et Spes 16). Walaupun banyak ketidakadilan; jika kita   hidup   sesuai   dengan   perintah Tuhan,   maka   kita   akan   tetap  tinggal  di  dalam kedamaian, ketenangan, keberanian karena tidak ada kejahatan dan kepalsuan di dalam hati kita. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh pelaku kejahatan. Inilah sukacita yang tetap kita miliki di tengah dukacita yang membuat kita tidak tawar hati.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang masuk ke sebuah perusahaan yang baru sebut saja namanya Adi. Di sana ia dipromosikan untuk menduduki jabatan sebagai seorang leader. Akan tetapi pada masa percobaan Adi harus bersaing dengan seorang kandidat yang lain. Pada masa percobaan tersebut, Adi berusaha sebaik mungkin yang ia bisa, ia rajin bekerja dan bekerja keras hingga larut malam. akan tetapi kandidat yang lain lebih pandai melakukan pendekatan pada atasan dan mempresentasikan kelebihanya maka ia yang terpilih menjadi seorang leader. Setelah promosi tersebut dilakukan, saat bekerja ternyata kandidat tersebut mengalami kesulitan bekerja dengan teamnya, kinerjanya kurang bagus, ia hanya pandai untuk mempresentasikan yang baik saja kepada atasanya. Tibalah saat audit, terjadi hasil kerjanya sangat mengecewakan. Pada saat masa krisis tersebut team tersebut justru mengusulkan Adi untuk menggantikan posisi leader. Dari ilustrasi di atas kita dapat melihat seseorang yang jujur, benar, bekerja keras, hidup dalam kebaikan akan membuat orang yang ada di sekelilingnya menjadi nyaman, damai, tenang, merasa terbantu, tersupport sehingga membuat suasana kerja menjadi produktif. Hal inilah yang dimiliki oleh orang yang hidup dalam Tuhan, dan menjadi tanda yang nyata bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah“. Roma 8:28  kita cenderung larut pada apa yang terjadi di sekitar kita. Sehingga terbawa pada pandangan kita sendiri. Misalnya kita larut terbawa berita berita yang beredar sehingga takut dan khawatir, sehingga tidak dapat melihat kehadiran Allah yang nyata. Akan tetapi kita dapat menyadari sekarang bahwa sesungguhnya apapun kondisinya Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan. Berharaplah akan pertolongan Tuhan selalu, supaya Ia menguatkan kita dalam menghadapinya.

Pada suatu hari ada seorang remaja yang menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolahnya. Pemuda tersebut menaruh dendam kepada pelakunya, akibatnya suatu hari di sebuah kesempatan ia membalasnya. Karena tidak terima dengan perlakukan pemuda tersebut, keesokan harinya pelaku kekerasan tersebut membawa teman-temanya alhasil pemuda tersebut harus menjalani perawatan di rumah sakit terdekat. Melalui hal ini kita dapat belajar bahwa kekerasan/kejahatan tidak dapat dibalas dengan kejahatan. Karena hanya akan membawa kejahatan yang baru. Hal ini akan membuat kita semakin menderita. Coba bayangkan kita lebih memilih hidup di dunia yang damai, rukun, tentram atau hidup dalam peperangan yang tiada hentinya? Saya rasa pasti ingin hidup dalam kedamaian. Oleh karena itu melalui pengampunan dan kasih maka kita dapat memutus rantai kejahatan tersebut. Kita berharap mereka yang hidup dalam kejahatan dapat terbuka matanya untuk melihat terang yang kita bagikan dan dapat mengubah hidup mereka. Oleh karena itu janganlah kita larut oleh nilai-nilai dunia. Walaupun kita melihat ketidak-adilan dan kejahatan, jadilah terang untuk menyinari kegelapan di sekitar kita.  Mother Teresa dari Kalkuta mengatakan “Jika kita tidak memiliki kedamaian itu karena kita lupa bahwa kita saling memiliki satu sama lain“. Jika kita menjadi musuh kita maka kita akan berpikir bahwa kita diberi kesempatan untuk mengetahui kebenaran, hidup di dalamnya dan bertobat. Maka jika kita menjumpai mereka yang berlaku jahat, beritahukanlah kebenaran dan kebaikan melalui tindakan kita supaya mereka dapat melihat kebaikan tersebut dan memiliki kesempatan bertobat dan menikmati buah dari kebaikan tersebut. Jika demikian dunia ini akan dipenuhi oleh kedamaian dan menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Walaupun kita dapat berduka melihat yang terjadi di sekitar kita, tapi kita dapat memberikan kemenangan dengan menjadi terang di tengah kegelapan tersebut.

Bahan  untuk sharing

  • Sharingkanlah bentuk ketidak adilan apa yang saat ini engkau lihat, alami di dalam hidupmu pada akhir-akhir ini?
  • Renungkan dan sharingkanlah bagaimanakah cara Tuhan memberikan pertolongan dan kekuatan dalam menghadapi masalahmu?
  • Apa harapanmu bagi ketidakadilan yang terjadi di sekitarmu dan apa yang dapat engkau berikan yang dapat menyadarkan pada mereka yang berlaku tidak adil?

Sharingkanlah pengalamanmu

Referensi

[1] Katekismus Gereja Katolik ( KGK ) nomor 1776

admin