PENTAKOSTA DALAM PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Dalam Perjanjian Lama, Hari raya Pentakosta adalah sebuah hari raya pengucapan syukur bagi Israel atas hasil panen gandum. Pesta itu dirayakan tujuh Minggu (bahasa Yunani “Pentakosta” berarti: kelimapuluh) setelah hari Paskah. Sebab itu juga dikenal dengan nama Hari Raya Tujuh Minggu {Ul 16:10}.

Dalam Perjanjian Baru dan oleh orang Kristen, istilah Pentakosta dihubungkan dengan hari turunnya Roh Kudus (Kis 2:1-11).  Empat puluh hari setelah bangkit, Yesus naik ke  surga. Sejak itu para murid bersama Bunda Maria dengan tekun bersehati dalam doa bersama untuk menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan Yesus. Ketika tiba hari Pentakosta, yaitu sepuluh hari setelah kenaikan Yesus ke surga,  turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah di mana mereka duduk. Lalu tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus.

ARTI PENTAKOSTA DAN PERAN ROH KUDUS BAGI KITA

Era Perjanjian Lama adalah era Allah Bapa, yang berbicara melalui perantaraan para Nabi. Era Perjanjian Baru adalah saat Yesus hidup di dunia, Sabda Allah yang langsung berbicara kepada manusia. Setelah Yesus wafat, bangkit dan naik ke surga, tibalah Era Roh Kudus, Pribadi Allah yang ketiga, yang dimulai pada hari Pentakosta.

Pentakosta adalah penggenapan sabda Yesus. Sabda yang diucapkannya di hari-hari terakhir menjelang penangkapan dan kematian-Nya di kayu salib.

  • Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18).
  • Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yohanes 14:16).
  • Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu (Yohanes 16:7).

Demikian juga dengan janji Yesus yang diucapkannya menjelang kenaikan-Nya ke surga.

  • “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).

Sebelum Roh Kudus turun, para Rasul, walaupun sudah melihat dan percaya bahwa Yesus bangkit, tetap dihantui ketakutan, dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Petrus dan kawan2 malah kembali ke laut menangkap ikan.

Setelah Yesus naik ke surga, mereka berdoa bersama dalam ruangan dengan pintu jendela tertutup, masih dalam ketakutan. Tapi setelah Pentakosta, Roh Kudus yang turun mengubah mereka secara total, sehingga mereka dengan berani mewartakan Injil kepada banyak orang. Dan Roh Kudus memperlengkapi mereka dengan kharisma-kharisma yang diperlukan untuk pewartaan; berbicara dalam berbagai bahasa baru, membuat mujizat, menyembuhkan dan lain-lain. (1 Kor 12:7-11)

Peristiwa Pentakosta tersebut secara prinsip dapat kita alami pada saat ini, yaitu di dalam Sakramen Krisma / Penguatan. Melalui Sakramen itu kita menerima kepenuhan Roh Kudus dan penyempurnaan rahmat Baptisan. Dengan Pencurahan Roh Kudus kita diubah, dibimbing, dan dikuatkan, diberi daya dan kuasa untuk melawan dosa dan melakukan kehendak Allah. Kepenuhan Roh Kudus dapat kita alami ulang dalam sakramen-sakramen yang kita terima maupun dalam pencurahan Roh Kudus, maupun saat kita sendiri memohonnya dengan sepenuh hati.

Paus Fransiskus dalam homili Pentakosta tahun 2015 lalu menjelaskan, bahwa Roh Kudus yang diutus itu bekerja dengan 3 cara :

  1. Membimbing kita kepada seluruh kebenaran {Yoh 16:13}
  2. Memperbarui muka bumi (Mzm 103:30)
  3. Menumbuhkan buah Roh Kudus yang adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal 5:22)

RENUNGAN

  • Kita harus selalu mengarahkan hati dan mohon Roh Kudus untuk menguasai diri kita sepenuhnya, agar kita tidak tersesat, dan dapat menghasilkan buah-buah Roh yang diharapkan.

  • Apabila kita terlalu dipenuhi oleh hal-hal duniawi, dan tidak menjaga relasi kita dengan Allah, maka Roh Kudus akan tersingkir ke sudut hati kita, daya dan kuasaNya akan semakin melemah atas diri kita. Tanpa bantuan Roh Kudus, kita hanya akan jatuh dan jatuh lagi dalam kedagingan kita untuk berdosa (concupiscentia). Buah yang dihasilkan adalah berbagai-bagai perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. (Gal 5:19-21)

  • Roh Kudus adalah Roh Allah yang lemah lembut dan rendah hati. Ia menghargai kebebasan pribadi kita. Apabila tidak dipersilahkan menguasai pribadi seseorang, Ia tidak akan memaksa. Tidak seperti roh jahat yang begitu melihat sedikit celah, segera menyerobot masuk, ingin menguasai dan enggan diusir keluar.

NOVENA ROH KUDUS

Hari Pentakosta adalah saat paling tepat untuk kita mohon dengan sungguh-sungguh agar Roh Kudus dapat tercurah memenuhi diri kita seperti saat Pentakosta pertama dulu. Kita mempersiapkannya dengan Doa Novena Roh Kudus. Hari Kenaikan Yesus ke surga selalu jatuh pada hari Kamis. Mulai Jumat keesokan harinya, dimulailah Novena Roh Kudus selama sembilan hari, berakhir pada hari Sabtu sebelum hari Minggu Pentakosta.  Allah akan memuaskan jiwa yang benar-benar merindukanNya.

Doa Novena Roh Kudus ada di buku Puji Syukur nomor 93. Atau dapat diunduh dari link
http://ekaristi.org/doa/dokumen.php?subaction=showfull&id=1147170266&archive=&start_from=&ucat=1&

SHARING

  1. Sharingkanlah pengalamanmu dalam mengikuti bimbingan Roh Kudus.
  2. Apakah semakin hari engkau semakin peka pada bimbingan Roh Kudus?

Sharingkanlah!

  1. Buah-buah Roh apa yang sudah berkembang dalam dirimu? Perbuatan daging apa yang masih kau buat?

Referensi
http://www.katolisitas.org/hubungan-pentakosta-sakramen-krisma-dan-pencurahan-roh-kudus/
http://www.katolisitas.org/roh-kudus-yang-membimbing-membarui-dan-memberi-buah/

admin