BAGAIMANA MENYIKAPI LGBT

Pendahuluan

Dunia modern menghadirkan rupa-rupa tantangan dalam hidup beriman. Seringkali ini menggugat ajaran yang paling mendasar dari Gereja Katolik, dan tak jarang menuntut Magisterium (Kuasa Mengajar Gereja Katolik) memberikan interpretasi baru pada berbagai situasi hidup dan pergumulan umat Allah saat ini. Euthanasia, hukuman mati, rekayasa genetika, penggunaan kontrasepsi, bahkan kremasi hanyalah beberapa dari begitu banyak situasi nyata dan konkrit yang memerlukan bimbingan Magisterium dalam terang iman Kristiani. Dalam kesempatan ini kita akan mencoba melihat suatu kelompok umat beriman dalam Gereja yang disebut dengan istilah “Kaum LGBT”.

DEFINISI

LGBT adalah akronim dari “lesbian, gay, biseksual, dan transgender”. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa “komunitas gay”, karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan. Artikel yang sangat singkat ini tidak dimaksudkan untuk memberi ulasan lengkap perihal LGBT, melainkan untuk memberikan pandangan beriman yang kiranya dapat membantu kita untuk lebih memahami dan bijak menyikapi kenyataan akan keberadaan saudara-saudari LGBT dalam hidup menggereja, bahkan dalam hidup berkomunitas kita.

BEBERAPA PEMIKIRAN SEKULER

Kitab Suci perlu Re-Interpretasi Para aktivis LGBT berargumen bahwa kecaman akan orientasi seksual mereka sebagai menyimpang secara moral, sebagaimana ditemukan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian baru, itu dapat dibatalkan dengan mencoba memahami latar belakang dari perintah atau larangan itu sendiri, sama halnya dengan posisi Gereja yang tidak lagi mengharuskan sunat bagi anak laki-laki, atau larangan untuk makan daging binatang haram (babi, ular, lembu, dll.). Argumen ini keliru, karena sekalipun hukum peribadatan dapat berubah atau mengalami penyesuaian menurut waktu dan budaya, ini tidaklah berlaku bagi hukum moral yang sifatnya abadi dan mengikat bagi semua makhluk hidup.

Saya Terlahir Seperti Ini

Sebagian saudara-i LGBT mengatakan bahwa orientasi seksual mereka bukanlah pilihan, melainkan bawaan sejak lahir yang natural. Akan tetapi, hanya karena itu bukan suatu pilihan, tidak serta-merta berarti itu bawaan sejak lahir. Beberapa keinginan dimiliki atau diperkuat oleh kebiasaan dan situasi hidup, bukan pilihan bebas. Contoh: Seorang alkoholik tidak terlahir sebagai alkoholik, tetapi dia dapat jatuh dalam kebiasaan untuk mabuk-mabukan. Sebuah peneilitian ilmiah mengatakan bahwa beberapa orang dapat terlahir dengan kecenderungan bawaan alkoholik. Kendati demikian, tidak seorang pun akan mengatakan bahwa seorang dengan kondisi demikian haruslah didorong untuk menjadi seorang alkoholik. Alkoholisme bukanlah “gaya hidup” yang diterima, demikian pula LGBT bukanlah suatu bentuk kehidupan yang harus diterima dan dimaklumi oleh masyarakat.

1 dari 10 Orang adalah LGBT

Klaim 10% ini seolah hendak meggiring opini publik pada pemakluman hidup LGBT. Benar atau tidaknya klaim tersebut, itu sama sekali tidak bisa dijadikan pembenaran. Sebab dengan iman kita tahu bahwa hampir 100% dari umat manusia terlahir dengan membawa “dosa asal” dan kecenderungan dosa yang menyertainya, tetapi oleh rahmat Baptisan kita semua dipanggil kepada kekudusan.

Kamu itu Homophobia

Tuduhan ini sering dilontarkan kepada yang menentang hidup kaum LGBT, bahwa yang menentang itu sebenarnya “takut” akan sesuatu yang tidak mereka mengerti sepenuhnya. Sekalipun dalam banyak situasi benar demikian, itu tetap tidak bisa dijadikan pembenaran. Contoh: Hanya karena temanmu menentang regulasi senjata api, tidak membenarkan regulasi itu untuk dibatalkan karena mendatangkan pertentangan. Regulasi senjata api perlu dimiliki, karena adalah tidak benar membiarkan semua orang memiliki dan menggunakan senjata api.

SIKAP GEREJA KATOLIK

Magisterium Gereja Katolik dalam berbagai kesempatan, dan melalui beberapa dokumen resmi telah berbicara soal ini, diantaranya Persona Humana dan Katekismus Gereja Katolik.

Persona Humana (PH)

Pada tanggal 29 Desember 1975 Kongregasi Untuk Ajaran Iman mengeluarkan deklarasi “Persona Humana” untuk menanggapi beberapa persoalan seksual. Persona Humana no. 8 secara ringkas menyatakan larangan homoseksual sebagai ajaran tetap (doctrina constans) Gereja, dengan merujuk kepada berbagai teks Kitab Suci dan juga pada kenyataan tidak adanya keterarahan kepada prokreasi dalam kehidupan homoseksual.

Katekismus Gereja Katolik (KHK)

2357 Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin. Homoseksualitas muncul dalam berbagai waktu dan kebudayaan dalam bentuk yang sangat bervariasi. Asal-usul psikisnya masih belum jelas sama sekali. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besar Bdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10., tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa “perbuatan homoseksual itu tidak baik” (CDF, Perny. “Persona humana” 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan. 2333

2358 Tidak sedikit pria dan wanita mempunyai kecenderungan homoseksual. Mereka sendiri tidak memilih kecenderungan ini; untuk kebanyakan dari mereka homoseksualitas itu merupakan satu percobaan. Mereka harus dilayani dengan hormat, dengan kasih sayang dan dengan biiaksana. Orang jangan memojokkan mereka dengan salah satu cara yang tidak adil. Juga mereka ini dipanggil, supaya memenuhi kehendak Allah dalam kehidupannya dan, kalau mereka itu orang Kristen, supaya mereka mempersatukan kesulitan-kesulitan yang dapat tumbuh dari kecenderungan mereka, dengan kurban salib Tuhan.

2359 Manusia homoseksual dipanggil untuk hidup murni. Melalui kebajikan pengendalian diri, yang mendidik menuju kemerdekaan batin, mereka dapat dan harus – mungkin juga dengan bantuan persahabatan tanpa pamrih – mendekatkan diri melalui doa dan rahmat sakramental setapak demi setapak, tetapi pasti, menuju kesempurnaan Kristen. 2347

BEBERAPA PANDUAN BERSIKAP

Bagi Orang Tua Yang Anaknya Seorang LGBT

  1. Terimalah dan kasihilah dirimu sendiri, tanpa menyalahkan dirimu atas orientasi seksual anakmu. Dengan demikian, tanpa membenarkan hidup LGBT itu sendiri, kamu tetap dapat menerima dan mengasihi anakmu, sebagaimana Tuhan mengasihi dia.
  2. Doronglah anakmu untuk tetap terlibat aktif dalam hidup menggereja, dan bila memungkinakan bergabung juga dalam Komunitas yang dapat membimbing mereka pada kasih persaudaraan yang sejati seturut kehendak Allah.
  3. Adalah baik pula bila anakmu memiliki seorang Imam atau Pembimbing Rohani yang dapat membimbing dia pada pilihan bebas untuk kemurnian hidup seturut rancangan Tuhan. Demikian pula orang tua harus memiliki seorang Imam atau Pembimbing Rohani yang dapat menolong mereka dalam membimbing anak-anaknya.

Bagi Gembala atau Pelayan Umat

  1. Berikan waktumu bagi orang tua, anak, maupun anggota umat yang memerlukan bantuan atau bimbingan untuk meninggalkan gaya hidup LGBT, dan mengendalikan orientasi seksualnya.
  2. Sambutlah mereka sebagai putra-putri Gereja, umat Allah yang telah dipercayakan kepadamu untuk dipelihara, dan dibimbing pada jalan kekudusan. Ajaklah mereka untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja dan berkomunitas.
  3. Milikilah pengetahuan yang memadai mengenai Ajaran Gereja Katolik perihal hidup LGBT maupun bahaya-bahaya yang menyertai dari pilihan hidup itu, agar pendampingan dan pengajaran Imanmu dapat tepat sasaran dan mengubahkan hidup mereka kepada pertobatan yang sejati.

Bagi Umat Beriman

  1. Jangan menghakimi tanpa belas kasih. Terimalah kenyataan bahwa diantara kita ada saudara-saudari yang sungguh berjuang untuk meninggalkan hidup LGBT, atau mungkin butuh bantuan dalam menemukan kesejatian hidup dan meninggalkan kejatuhan dosa seksual, sebagai konsekuensi dari tindakan yang menyertai situasi hidup itu.
  2. Milikilah pengetahuan yang memadai perihal hidup LGBT dan bagaimana menyikapinya sebagai seorang beriman, agar kamu dapat menjadi teman yang baik dalam peziarahan hidup mereka yang juga berjuang meninggalkan kejatuhan dosa yang menyertai hidup LGBT, serta menapaki jalan pengudusan diri.
  3. Buatlah gerakan bersama sebagai suatu kesatuan umat, untuk melawan segala bentuk diskriminasi dan pengasingan kaum LGBT, dan lakukanlah karya-karya nyata yang dapat membantu mereka mengalami pertobatan dan pemurnian panggilan hidup.

admin