KIKIR

“Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.”
(Ams 28:22)

Kita seringkali mengkaitkan dosa dengan segala sesuatu yang sifatnya “berlebihan”, seperti minum (minuman beralkohol) berlebihan, berjudi berlebihan, mencari kesenangan secara berlebihan, dan seterusnya. Akan tetapi tahukah kita bahwa sebaliknya, bersikap pelit/kikir juga merupakan dosa.

Kikir dan hemat itu berbeda. Kikir itu sama dengan pelit, sementara hemat berarti irit, ekonomis. Namun dalam kehidupan sehari-hari, seringkali orang menjadi salah kaprah; karena sangat berhemat, orang lantas menjadi pelit/kikir.

Sifat kikir, secara tegas dikecam di dalam Alkitab, yang mengatakan bahwa orang yang kikir tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (bdk. 1 Kor 6:10). Janganlah kita heran kalau sifat kikir dianggap begitu serius, karena kikir adalah kebalikan dari kemurahan-hati. Jika orang yang murah hati suka memberi dan bahkan bersuka-cita dalam memberi, orang yang kikir menahan pemberian, merasa memberi itu sulit dan tidak menyenangkan. Orang yang murah-hati menebarkan kasih, sebaliknya orang kikir menahan/tidak menunjukkan kasih. Orang kikir lebih suka menerima (lebih banyak mengambil) daripada memberi.

Bentuk dan Penyebab Sifap Kikir

Kita seringkali hanya mengkaitkan sifat kikir dengan uang, namun kikir juga bisa dalam bentuk yang bukan uang. Orang juga bisa kikir dalam emosi, dimana orang ini kikir dalam menunjukkan dan memberikan kasih sayang mereka, bahkan kepada orang-orang terdekat. Ada juga bentuk lain lagi, dimana orang bersikap kikir dalam memberikan waktunya untuk orang lain, kikir dalam memberikan tenaga atau talentanya, dan kikir dalam melayani. Orang yang kikir seringkali memberikan banyak alasan untuk tidak memberi.

Apa saja yang dapat menjadi penyebab seseorang jatuh ke dalam dosa kikir:

  1. Egois dan serakah karena ingin memiliki lebih banyak, sehingga tidak mau berbagi kepada sesama.
  2. Tidak percaya diri atau merasa diri tidak mampu. Seringkali juga terselubung kesombongan disini, karena ia khawatir dengan penilaian orang lain kalau-kalau apa yang ia mau berikan tidak sebanding dengan apa yang (ia pikir) orang lain berikan.
  3. Rasa khawatir yang berlebihan. Ini bisa juga disebabkan oleh pengalaman masa lalu. Misalnya seorang yang kikir dalam memberi uang, disebabkan ia hidup dalam kemiskinan di masa kecilnya, sehingga ia khawatir untuk jatuh lagi dalam kemiskinan. Akibatnya, meskipun telah lebih mapan, ia tetap takut untuk memberi karena merasa perlu untuk selalu menyimpan harta. Ada juga yang kikir dalam menunjukkan emosi (kasih-sayang) karena takut memiliki relasi yang intim dengan sesama atau takut dikontrol. Bila seseorang mengalami terlalu dikontrol oleh orang-tuanya sehingga terkekang kebebasannya, ia bisa menjadi takut untuk menunjukkan kasih kepada orang lain, karena ia merasa takut kalau orang tersebut nantinya mengharapkan kasih darinya dan kemudian ingin mengontrol dirinya. Ada juga yang menjadi kikir dalam membuka diri terhadap orang lain karena pernah dikecewakan di masa lalu, misalnya karena kedua orang-tua bercerai, ia kehilangan relasi/kasih dari salah satu orang-tua.
  4. Kebencian atau dendam dapat membuat seseorang bersikap kikir dalam menunjukkan kebaikan atau memberi bantuan kepada orangorang yang dibenci. Mis. karena rasa benci, lalu menolak untuk memaafkan dan bahkan menolak mendoakan saudara yang telah menyakitinya.

Tuhan Menghendaki Kemurahan-hati

Alkitab banyak menuliskan kisah yang menunjukkan bahwa Tuhan berkenan dan memberkati orang-orang yang murah hati. Dalam Luk 7:36-50, ketika tuan rumah, Simon mengkritik dalam hatinya wanita berdosa yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal harganya, Tuhan Yesus memuji kemuarahan-hati wanita itu dan membandingkan dengan sikap Simon, yang sebagai tuan rumah bahkan tidak memberikan air bagi Yesus untuk membasuh kaki-Nya. Oleh karena kemurahan-hatinya, Yesus bukan saja mengampuni dosanya, Ia juga meyakinkan wanita itu bahwa imannya telah menyelamatkannya (bdk. Luk 7:50).

Dalam Markus 12:41-44, Yesus memuji janda miskin yang dengan murah-hati memberikan seluruh penghasilannya (artinya: ia memberikan segenap hati dan hidupnya kepada Tuhan), yang dianggap jauh lebih bernilai daripada persembahan orang kaya yang memberi dari kelimpahannya.

Dalam Kitab 1 Raj 17:7-16, oleh karena iman dan ketaatan, janda miskin di Safrat, di masa kekeringan, dengan murah-hati merelakan roti kepunyaannya untuk Nabi Elia yang meminta daripadanya. Dan oleh karena kemurahannya itu, maka Tuhan memberkatinya dengan menjaga kehidupannya selama masa kelaparan berlangsung.

Mengatasi Sifat Kikir dan Mengembangkan Kemurahan Hati

Bagaimana melawan sifat kikir dan mengembangkan kemurahan hati?

  1. Ingatlah selalu akan kemurahan-hati Tuhan yang tiada tara dalam hidup kita: bahwa Allah telah menyelamatkan dan mengampuni kita (meskipun kita berdosa dan tidak layak), dan percayalah kepada penyelenggaraan Tuhan, serta bersyukurlah senantiasa.
  2. Berkomitmenlah untuk melakukan paling tidak satu tindakan kebaikan setiap hari, misalnya: mendoakan orang sakit, memberi makan orang miskin, mengunjungi atau menelpon tetangga/teman/saudara yang membutuhkan dukungan emosional.
  3. Berilah dengan murah hati ketika seseorang meminta, misalnya ketika seseorang meminta waktu kita untuk mendengarkannya (bisa dimulai dari keluarga sendiri), ketika ada pengemis minta sedekah, dan sebagainya.
  4. Berikanlah benda yang masih engkau sukai kepada yang lebih membutuhkan benda tersebut, bukan sekedar memberikan barang yang telah usang dan tidak dikehendaki.
  5. Kunjungilah orang yang kesepian atau hidup sendirian. St. Theresa dari Kalkuta mengatakan, bahwa kesepian adalah jenis kemiskinan yang paling parah. Kita mungkin mengetahui/mengenal beberapa orang yang kesepian: sanak saudara, tetangga, anggota paroki, dsb.
  6. Carilah tahu tentang satu atau dua organisasi kemanusiaan yang membutuhkan dana dan berkomitmenlah untuk memberi donasi kepada mereka secara teratur. Sebagai anggota KTM, kita juga bisa menyisihkan dana secara teratur untuk persembahan kasih, kolekte Gereja, dan membantu karya misi KTM.
  7. Tantanglah dirimu untuk memberi sedikit lebih (dari apa yang kau pikir). Misalnya jika bila engkau ingin menyumbang Rp50.000 berikanlah Rp60.000; ketika engkau melihat seorang pengemis dan mau memberi dia segelas teh manis, barangkali engkau bisa menambahkan sepotong roti. Keluarlah dari zona nyamanmu, dan berusahalah untuk memberi sedikit lebih, sehingga engkau akan dapat melawan sifat kikir dan berkembang dalam kemurahan hati.

Sources: The Stinginess of the Sinner, Timothy P O’Malley, Jangan Jadi Orang Kikir, Renungan Harian Air Hidup 7Sep2011, 6 Ways to be a More Generous Person, Matthew Kelly,understanding the Psychology of Stinginess, Hanan Parvez

Rhema:

“Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” (Amsal 11:25)

Sharing :

  1. Jika engkau menyadari bahwa engkau adalah seorang yang kikir, sharingkanlah dalam hal apakah engkau kikir, apa yang mungkin menjadi penyebabnya dan perubahan apa yang engkau harapkan.
  2. Sharingkanlah bagaimana engkau (telah) mengatasi sifat kikir dan apa buah-buah yang engkau rasakan dengan menjadi (lebih) murah-hati.

Pedoman Hidup KTM 68

“Kamu telah mati dan dikuburkan bersama dengan Kristus”, kata Santo Paulus. Karena itu dengan masuk Komunitas engkau harus berusaha mematikan manusia lamamu dengan segala hawa nafsunya yang membawa kebinasaan, supaya engkau dapat bangkit kembali bersama Kristus. Petunjuk-petunjuk berikut dimaksudkan untuk membantu dalam proses kematian dan kebangkitan tersebut.

admin