Antara Handphone dan Doa

If you spend time praying for people instead of talking about them, you’ll get better result
Jika Anda lebih memilih meluangkan waktu untuk berdoa daripada membicarakan orang lain, Anda akan mendapatkan hasil yang lebih baik(Joel Osteen)

Pada suatu hari, dalam sebuah retret, seorang frater yang baru saja bertugas di kota besar merasa terganggu melihat begitu banyaknya peserta, baik yang tua maupun yang muda,sibuk melihat ponselnya selama ia berbicara di depan untuk menyampaikan materi. Semakin lama, frater tersebut merasa kesal dan mengingatkan para peserta untuk fokus pada waktu untuk retret, meninggalkan kehidupan ‘duniawi’, dan mendengarkan sesi-sesi dengan baik. Seorang Ibu memperlihatkan ponsel yang ia pegang kepada frater tersebut,dan betapa terkejutnya sang frater ketika menyadari, bahwa para peserta sibuk melihat ponselnya karena ingin membaca ayat-ayat kitab suci yang sedang dibahas melalui Alkitab elektronik pada HP mereka masing-masing.

Bagi orang-orang yang hidup di kota besar, melepaskan pengaruh atau keterlibatan handphone (HP/ponsel) dalam kehidupan sehari-hari mungkin nyaris sama sulitnya dengan menghindari garam dalam masakan. Gambar pada bagian awal tulisan ini mengilustrasikan kehadiran HP yang mengganggu relasi antar manusia. Apakah HP juga mengganggu relasi kita dengan Tuhan

Dunia di dalam Genggaman Tangan

Mungkin Anda pernah mendengar kalimat, “HP: mendekatkan yang jauh, menjauhkanyang dekat”. Ungkapan tersebut menggambarkan sisi positif dan negatif dari HP. Denganadanya HP, kita dapat dengan mudah terhubung dengan orang-orang yang tinggal berjauhan dari kita. Namun, tanpa disadari, kadang kala kita menjadi kurang menghargairelasi dengan orang-orang yang berada di sekitar kita karena perhatian kita teralihkan dengan berbagai hal yang menarik yang berada dalam genggaman tangan kita, pada HP kita.

Tak jarang ada orang tua yang mengeluh, ketika anaknya pulang ke rumah, sang anak tetap tidak punya cukup waktu untuk bercakap-cakap dengan orangtuanya. Sang anak tetap sibuk berelasi dengan ‘dunianya’ melalui HP. Padahal, ayah dan ibu dari anak tersebut ingin mengetahui kabar dari anak tersayangnya itu dan juga ingin berbagi cerita dengan sang anak. Hal ini dapat menyebabkan rasa sedih bagi orangtua tersebut.

Dalam hal lain lagi, tuntutan pekerjaan seringkali memaksa orang-orang untuk tidak dapat meninggalkan HP atau laptop-nya walau hanya untuk beberapa saat. Kisah nyata, dalam retret beberapa waktu yang lalu, seorang wanita muda terpaksa meninggalan beberapa sesi pengajaran karena harus kembali ke kamarnya untuk mengurus pekerjaan yang tidak dapat ditunda. Banyak orang yang sudah tidak dapat lagi mendapatkan ketenangan dalam hidupnya. Hari libur pun harus digunakan untuk bekerja atau mengurus berbagai macam hal, bahkan dari atas tempat tidur sekalipun.

Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah, apakah kebiasaan atau budaya baru yang disebabkan oleh maraknya HP membuat relasi kita dengan Tuhan menjadi berbeda?

Waktu Eksklusif

Secara tidak langsung, kehadiran HP memaksa kita untuk semakin segera mengetahui dan bereaksi mengenai berbagai macam hal: berita dari berbagai belahan dunia, urusan sekolah/kuliah, urusan pekerjaan, dll. Beberapa orang semakin merasa terintimidasi dengan kehadiran HP.

Pada pagi hari, seorang mahasiswa harus terburu-buru ke kampus untuk kuliah. Ia disibukkan dengan berbagai tugas, ujian, dan kegiatan hingga sore hari. Sore hingga malam hari, ia terlibat dalam kegiatan organisasi, pelayanan, dan lain-lain. Ketika kembali ke tempat kost/ rumah pun, ia masih disibukkan dengan tugas-tugas kuliah. Karena kelelahannya, ia langsung tertidur tanpa sempat memperhatikan dirinya sendiri selain untuk makan dan mandi.

…bagi diri sendiri…

Apakah Anda pernah atau sedang berada dalam situasi seperti itu? Jika ya, dapatkah Anda mengambil waktu beberapa menit dalam setiap harinya untuk sedikit memperhatikan kehidupan Anda? Duduklah dengan tenang, refleksikan berbagai kejadian yang Anda alami dalam hari tersebut dan tariklah makna dari berbagai kejadian yang Anda alami. Berefleksi seperti itu adalah salah satu cara agar berbagai kejadian tidak berlalu begitu saja tanpa memberi pelajaran hidup apapun pada kita

Pada paragraf di atas, digunakan kata “ambil” (mengambil waktu) untuk menggambarkan kata kerja aktif. Hal itu digunakan untuk menggambarkan bahwa mengambil waktu adalahkegiatan aktif yang disadari, diniatkan, dan diusahakan. Mengambil atau menyisihkan ,tidak sama artinya dengan menyisakan, karena sisa itu tidak selalu ada.

…bagi orang-orang di sekitar kita…

Luangkan waktu sejenak untuk orang-orang yang Anda kasihi atau orang-orang yang berada di sekitar kita. Ambilah waktuuntuk bercakap-cakap (baik secara langsung maupun melalui telepon) dengan orang tua, saudara, atau sahabat Anda. Terkadang, perhatian kecil yang Anda berikan pada seseorang yang sedang kesepian, dapat menjadi oase bagi kehidupan orang tersebut.

Selain itu, berdoalah juga untuk mereka yang memerlukannya, walau tak Anda kenal. Dengan kemudahan tersampaikannya suatu berita, Anda dapat mengetahui kondisi berbagai orang, kondisi alam, dan lain-lain sebagainya dalam sekejap. Berdoalah bagi mereka yang memerlukannya.

…bagi Tuhan…

Bagian ini mungkin menjadi bagian yang paling menantang. Mengapa? Tuhan tidak menelepon Anda secara fisik, mengirimkan pesan melalui berbagai massager, atau mengirimkan ratusan surat elektronik (e-mail) kepada Anda, sekedar untuk menarik perhatian Anda kepada-Nya. Memang saat ini begitu banyak orang yang mengirimkan renungan, kutipan ayat-ayat Alkitab, dan berbagai macam hal lainnya melalui video, pesan singkat, dan lain-lain. Tetapi, berapa seringkah juga Anda mengabaikan hal-hal tersebut?Ambilah waktu eksklusif juga untuk Tuhan. Ciptakanlah suasana yang nyaman bagi Anda, gunakanlah sarana yang dapat membantu Anda untuk fokus kepada-Nya. Sebagai contoh, jika Anda ingin melakukan lectio divina, sedapat mungkin, gunakanlah Alkitab dalam bentuk buku. Membaca Alkitab elektronik, jika Anda tidak mematikan jalur transportasi data pada HP Anda, makaAnda dapat dengan mudah terdistraksi oleh berbagai notifikasi pada HP Anda. Notifikasi-notfikasi tersebut dapat merebut perhatian Anda dari Tuhan.

Teladan Yesus

Jika Anda mencari ayat dalam Alkitab yang menceritakan mengenai sikap Yesus terhadap HP, tentunya Anda tidak dapat menemukannya. Namun, kita dapat meneladani sikap Yesus dalam menjaga relasinya dengan Allah Bapa. Dalam kesibukan dan ketenarannya setelah melakukan berbagai mujizat, Yesus selalu mengambil waktu untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Ia pun mengajak para murid-murid-Nya. Yesus tidak terlena dalam kesibukan-Nya. Dengan tegas, Ia menyisihkan waktu untuk kembali kepada Bapa.

HP dapat membantu Anda mengingat waktu-waktu doa melalui alarm-nya (misalnya waktu untuk doa Angelus, doa Kerahiman Ilahi, dll). Dalam satu HP pun, Anda dapat mendapatkan begitu banyak teks doa, bahkan dalam berbagai Bahasa. Jika digunakan dengan bijak, HP tidak akan menjauhkan Anda dari Tuhan, melainkan dapat membantu Anda untuk semakin peduli kepada lingkungan Anda melalui doa-doa dan aksi nyata Anda (misalnya memberikan donasi kepada mereka yang membutuhkan). Semoga dengan merenungkan hal ini, Anda dan teman-teman Anda dalam sel dapat saling mengingatkan untuk meluangkan waktu doa. Namun hal yang lebih penting untuk diingat, lakukanlah setiap doa dengan segenap iman, harapan, dan kasih kepada Kristus.

Sharing:

  1. Apakah selama ini Anda merasa terbebani dengan kehadiran HP yang tanpa disadari dapat menuntut Anda untuk dengan segera menyelesaikan berbagai banyak hal? Ceritakan pengalaman Anda.
  2. Bagaimanakah dengan waktu yang Anda sediakan untuk diri sendiri, sesama, dan Tuhan? Apakah Anda mengalami kesulitan untuk membagi waktu? Sharingkan pengalaman Anda.

Pedoman hidup KTM no 107:

Hidup kita di dunia ini merupakan suatu perjuangan. Namun, seperti yang dikatakan Santo Paulus, perjuangan kita tidak hanya melawan darah dan daging, melainkan juga melawan kuasa-kuasa kegelapan, melawan roh-roh jahat. Karena itu ikutilah nasihat Santo Paulus dengan saksama: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,tetapi melawan penguasa penguasa tak kelihatan, melawan penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu pakailah seluruh perlengkapan senjata Allah,supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikat-pinggangkan kebenaran dan berbaju-zirahkan keadilan; kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus. Juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.”(Ef. 6:10-20)

Sumber gambar:

http://psychologyarticles.info/?e=Hanji+living+paper+that+breathes++KOREANET+Mobile+Site

admin