Pelayanan KTM dalam paroki (1Kor 12:12-31)

Tujuan

Salah satu tujuan didirikannya KTM adalah untuk mencetak kader-kader bagi Gereja Katolik. Oleh karena itu, diharapkan semakin banyak anggota KTM juga turut ambil bagian dalam kegiatan pastoral dalam paroki setempat, baik dalam lingkungan maupun stasi terdekat. Karena kita sebagai anggota Gereja, merupakan anggota tubuh di dalam tubuh Kristus.

Dasar

Kristus adalah Kepala Tubuh, tetapi tubuh adalah Gereja (KGK 792). Kesatuan Tubuh tidak menghapus perbedaan antara anggota-anggota. Satu Roh yang membagi-bagikan anugerahNya yang bermacam-macam sesuai kekayaanNya dan sejalan dengan kebutuhan pelayanan demi kepentingan Gereja (KGK 791).

Kita patut berbangga, Gereja Katolik merupakan Gereja yang kaya akan warna. Kita memiliki banyak kegiatan baik yang bersifat kategorial maupun territorial. Kegiatan teritorial merupakan kegiatan yang mengacu pada rencana kerja pastoral paroki, sedangkan kegiatan kategorial mengacu kepada rencana kerja organisasi terkait yang menaunginya. Meskipun Gereja kita memiliki banyak warna, hal ini tidak membuat umatnya terpecah-pecah, namun kita harus ingat, bahwa kita adalah satu Tubuh yang sama, yaitu Tubuh Kristus, dan masing-masing kelompok yang ada di dalam Gereja merupakan anggota-anggota dari Tubuh Kristus itu sendiri. Di mana gereja/paroki setempatlah yang menjadi wadah di mana semua anggota Tubuh Kristus berkumpul, bersatu, dan turut melayani bersama bagi GerejaNya (KGK 787-791).

Bagi yang belum memahami perbedaan antara kelompok territorial dan kategorial dalam paroki, ada sedikit perumpamaan yang bisa digambarkan. Rumah kita, pasti merupakan bagian dari sebuah RT, RW, kelurahan, dst. Wilayah tersebut yang mencerminkan kelompok territorial dalam paroki, sedangkan kategorial merupakan kelompok-kelompok lain yang terbentuk karena suatu minat tertentu yang ingin dikembangkan oleh kelompok itu, seperti Kelompok Tani, Kelompok Nelayan, dll.

KTM merupakan kelompok kategorial dalam setiap paroki setempat, dan setiap anggota KTM disatukan dengan visi misi yang dimiliki oleh KTM.

Tak jarang, mereka yang tergabung di kelompok kategorial melupakan komunitas dasar mereka di dalam paroki. Dengan kata lain, mereka yang sudah sangat amat aktif dalam kelompok kategorial, lupa untuk meluangkan waktu dalam pelayanan dalam paroki ataupun lingkungan setempat. Karena bagaimanapun juga, sebagai anggota Gereja pasti kita membutuhkan lingkungan kita, dari awal kita dilahirkan di dalam Gereja (surat baptis) hingga saat kita nanti dipanggil kembali ke rumah Bapa (surat kematian), di mana setiap pengurusan surat administrasi Gereja, kita pasti akan berurusan dengan lingkungan dan paroki.

Ada beberapa kendala/hambatan yang sering menyebabkan anggota KTM, kurang meluangkan waktu untuk lingkungan/paroki:

  1. Kurangnya pemahaman akan tugas anggota/warga gereja
    Setiap umat Gereja, merupakan anggota dari sebuah paroki. Kelompok paling kecil dalam paroki adalah sebuah lingkungan. Seperti yang telah dicontohkan sebelumnya, setiap warga Gereja pasti terdaftar dalam sebuah lingkungan tanpa kecuali. Namun ada orang yang paham dan ada yang tidak. Yang paham pun, ada yang mau terlibat aktif dan juga ada yang memilih untuk tidak terlibat aktif. Dalam tugas perutusan ini, kita sudah selayaknya merenungkan kembali, maukah kita menjadi garam di lingkungan/paroki kita? Bukankah sebuah tubuh akan semakin berkembang jika lebih banyak anggotanya yang turut aktif melayani (bdk ay 26).
  2. Merasa kurang nyaman dengan kelompok lingkungan karena perberbedaan-perbedaan yang ada
    Setiap perbedaan yang ada, harusnya dapat dibangun sebagai sebuah kekuatan, bukannya dijadikan sebagai batu ganjalan atau alasan untuk tidak mau bersatu. Bila ada kebiasaan di kelompok kategorial yang dirasa cocok untuk dapat melengkapi kebutuhan lingkungan/paroki, kita bisa menawarkan hal tersebut kepada pihak terkait, tanpa adanya unsur paksaan. Begitupula sebaliknya, jika ada hal-hal positif di dalam lingkungan/paroki yang bisa diterapkan di dalam kelompok kategorial, hendaknya hal yang sama juga diusulkan kepada pihak terkait. Apabila semua pihak memiliki cara pandang di atas, Gereja Katolik akan semakin kaya dan solid di dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan.
  3. Kurangnya himbauan/teladan dari para pelayan mereka, untuk turut mengambil bagian dalam kegiatan lingkungan/paroki Hal memberikan teladan juga sangat diharapkan terjadi di KTM. Jika para pelayan di sebuah KTM jarang memeberikan arahan, ataupun tidak memberikan contoh, sudah pasti para anggotanya pun merasa tidak memiliki kepentingan/tidak perlu membantu lingkungan/paroki. Sebagaimana yang dihimbau oleh rasul Paulus, supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (bdk ay 25).
  4. Kurangnya rasa memiliki paroki/lingkungan setempat Pada waktu seseorang menerima Sakramen Baptis, maka ia telah diperbaharui di dalam Kristus dan menerima Roh Kristus. Oleh karena itu, tri tugas Yesus, sebagai nabi, imam, dan raja, juga diberikan kepada umat Allah, sesuai dengan kemampuan demi kepentingan Gereja (LG 31).
    Sebagai nabi, umat Allah diharapkan terus berpegang pada kebenaran dan hidup menurut kebenaran yang telah ditetapkan oleh Kristus melalui GerejaNya. Umat Katolik diajak untuk turut aktif dalam setiap karya pewartaan, baik melalui katakese , kesaksian hidup, dll.
    Sebagai imam, umat Allah diajak untuk terus berpartisipasi dalam kehidupan Sakramen dan liturgi, terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Khususnya dalam memenuhi panggilan kita untuk hidup secara kudus, uang mengasihi Allah dan sesama atas dasar Kasih Allah.
    Sebagai raja, umat Allah diajak untuk turut serta dalam tugas pelayanan, pelayanan pastoral, persaudaraan, dll. Sebagaimana Yesus sendiri, ͞”Ia datang tidak untuk dilayani tapi untuk melayani dan memberikan nyawaNya saebagai tebusan bagi banyak orang” (bdk Mat 20:28).

    Jika sebuah Gereja memiliki sedikit atau minim anggota-anggota yang mau mengemban ketiga tugas Kristus, siapakah yang akan melayani kita, anak dan cucu kita? Terlepas apakah kita telah terlibat dalam sebuah kelompok kategorial dalam paroki atau tidak, hendaknya setiap Umat Allah menyadari dan melaksanakan tugas perutusannya demi kemuliaan Tuhan semata.

Hal-hal yang bisa dilakukan supaya anggota KTM juga bisa turut serta dalam pelayanan di paroki:

  1. Managemen waktu yang baik
    Jika seseorang anggota KTM mengambil bagian dalam banyak kegiatan pastoral ataupun kategorial yang lain, diharapakan anggota juga bisa memiliki managemen waktu yang baik, sehingga keterlibatan yang multi tersebut bisa saling mendukung dan melengkapi, bukannya kegiatan yang satu membuat keterlibatan di kelompok lain menjadi lebih kendor atau kurang diperhatikan.
  2. Bijak dalam memprioritaskan
    Prioritas pelayanan juga harus diambil supaya kita bisa membagi waktu kita, baik untuk Tuhan, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan di Gereja (baik di KTM maupun di lingkup paroki/lingkungan). Kita juga perlu sadar, apabila keterlibatan kita di KTM bukan hanya semata-mata untuk melayani, namun di dalam pertemuan KTM kita juga diisi kembali dalam berbagai hal, baik melalui firman, sharing, serta doa-doa yang ada.
    Bagaimana kita memaknai pelayanan kita, serta belajar peka melihat kebutuhan yang ada, sangatlah menjadi hal yang penting untuk dilakukan.
    Misal: Jika suatu saat si A mendapat tugas untuk membawakan Pendalaman Iman di lingkungan, juga di minggu yang sama si A telah mendapat tugas menjadi WL di pertemuan sel. Karena suatu hal, terjadilah perubahan acara di mana pertemuan sel dan pendalaman lingkungan jatuh pada hari yang sama. Kebetulan sel di mana si A bernaung sudah memiliki banyak kader yang bisa bertugas, jadi dengan mudah si A bisa minta temannya untuk menggantikan. Sedangkan dilingkungan si A, belum ada orang yang mau belajar untuk mengisi Pendalaman Iman, bahkan pada jadwal Pendalaman Iman, jumlah warga yang hadir biasanya berkurang dibandingkan dengan pertemuan warga lainnya. Jadi, keputusan paling bijak yang harus diambil oleh si A adalah, ia harus tetap membawakan materi Pendalaman Iman di lingkungan dan dengan seijin pelayan sel si A absen dari pertemuan sel minggu itu.
  3. Kemauan untuk berkorban
    Bagi seorang anggota KTM yang sudah berkeluarga, apalagi memiliki anak-anak yang masih balita, tentunya merupakan sebuah tantangan besar untuk dapat membagi waktu, baik untuk keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Memang, semakin banyak komunitas di mana kita turut melayani, semakin banyak juga waktu yang harus diluangkan. Tetapi, jangan sampai lupa, bahwa di atas segala-galanya, Tuhanlah yang kita layani, biarlah kemuliaanNya semakin nyata di dalam setiap pelayanan dan perbuatan kita. Sedangkan bagi anggota KTM yang belum berkeluarga, masih banyak waktu dan kesempatan yang bisa kalian ambil, baik untuk belajar ataupun turut membagikan apa yang telah kalian dapatkan dari KTM.
  4. Tidak harus sesuatu yang “besar” atau “susah”
    Sebuah pelayanan tidak dinilai dari besar pekerjaan itu, ataukah sesusah apa persiapan yang harus dilakukan. Banyak hal yang bisa kita lakukan bagi gereja melalui lingkungan/stasi kita masing-masing. Kita bisa mengambil bagian menjadi kolektan, pembawa persembahan, tatib/among umat, ataupun bila kita memililki kelebihan lain juga bisa menjadi pemazmur dan lektor.
  5. Sesuai dengan panggilan kita masing-masing
    Alangkah baiknya, apabila pelayanan kita dalam paroki juga berdasarkan panggilan serta kerinduan diri kita masing-masing, sehingga pelayanan tersebut tidak menjadi beban, melainkan membawa berkat dan sukacita bagi orang lain dan gereja. Niscaya sebuah pelayanan yang tumbuh dari kerinduan, buah-buahnya pun akan dapat dirasakan serta Tuhan akan selalu melengkapi dengan setiap rahmat yang dibutuhkan.

Penutup

Terlapas dari semua pelayanan yang telah kita lakukan, hendaklah kita selalu berusaha untuk meminta karunia yang paling utama, Kasih, dan biarlah Tuhan sendiri yang menggerakkan ke mana kita harus melangkah serta melengkapi kita dengan segala rahmatNya (bdk ay 31). Dan yang terpenting, Kristuslah yang menjadi pusat dan dasar dari segala pelayanan kita di dalam Gereja.

Sumber:

1. L. Prasetya, PR, Sakramen Yang Menyelamatkan (edisi revisi), Penerbit Dioma, Malang, 2016, hal 22

2,3,4 Stefanus Tay, Tiga Misi Keselamatan Kristus: Sebagai Nabi, Imam, dan Raja, www.katolisitas.org/tiga-misi-keselematan-kristus-sebagai-nabi-imam-dan-raja/

Sharing

  • Apakah Anda telah turut ambil bagian dalam pelayanan dalam paroki?
  • Apabila sudah, coba sharingkan pengalaman anda perihal pelayanan
  • dalam paroki, baik sebagai pribadi maupun dalam kelompok?
  • Apabila belum, coba sharingkan kendala/tantangan/hambatan dalam pelayanan di paroki? Semoga anggota yang lain, turut dapat memberikan masukkan berarti bagi mereka yang belum mengambil bagian dalam pelayanan di paroki.

admin