Mengatasi Kepahitan menurut St. Teresa Avila

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 Kor 10:13)

Pendahuluan

Kehidupan memang tidak pernah dipisahkan dari pencobaan dan derita, karena sesungguhnya semua inilah yang memekarkan bunga-bunga kehidupan jika dilewati dengan iman dan cinta. Akan tetapi, seringkali manusia memberontak pada saat mengalaminya. Mereka rasakan itu sebagai suatu kepahitan, sehingga kelopak-kelopak bunga kehidupan itu pun berguguran sebelum berkembang. Kisah hidup Naomi dan Rut menggambarkan betapa pahitnya kehidupan yang mereka jalani, tetapi dengan iman dan cinta pada Allah mereka dapat melaluinya dengan tabah dan berbuahkan sukacita dari kesetiaan mereka. (bdk. Kitab Rut)

Singkat cerita, Naomi yang telah bertahun-tahun meninggalkan Betlehem dan merantau di tanah Moab bersama suaminya, Elimelekh. Akan tetapi, di sana Elimelekh meninggal, bahkan kedua anak laki-lakinya pun meninggal. Kini yang ada bersamanya tinggal lah Rut, menantunya, yang tetap setia tidak mau meninggalkan mertuanya sendirian. Itulah sebabnya kini mereka kembali ke Betlehem. Naomi bukan lagi ibu muda yang kuat seperti dulu, raut wajahnya dimakan usia dan peristiwa, tampak letih dan sedih. Setelah melalui pencobaan dan derita, akhirnya Naomi pun memperoleh kebahagiaan di hari tuanya. Rut menantunya diambil isteri oleh Boas, seorang sanak keluarga Elimelekh. Rut melahirkan anak laki-laki yang sehat bagi Naomi, yang menjadi sumber kegembiraan Naomi di usia senjanya. Anak itu diberi nama Obed. Obed kemudian memperanakkan Isai, dan Isai memperanakkan Daud. Dari garis keturunan Daud inilah sekitar seribu tahun kemudian, lahir Yesus Kristus, Juruselamat dunia di Betlehem.

Keselamatan yang membahagiakan, menyenangkan, membawa kedamaian, ternyata berakar pada banyak penderitaan. Bagaimanakah caranya mengatasi kepahitan dengan iman dan cinta? Santa Teresa Avila, biarawati Karmel yang hidup di abad ke-16 memberikan ajarannya yang dikenal dengan istilah “Lima Jendela Terang” yang membuka harapan, menyegarkan iman, dan membangkitkan cinta.

1. Jendela pertama: Menaklukkan si jahat
Seringkali kemurungan yang menyelimuti diri manusia berasal si jahat (setan). Allah adalah pencipta sedangkan setan adalah perusak. Setan selalu ingin menghancurkan segala kebaikan dan keindahan yang diciptakan oleh  Allah. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kita untuk berdoa, “Bebaskanlah kami dari yang jahat.” (Mat.6:13) . St. Teresa Avila menyadari bahwa Tuhan memberikan sukacitanya ke dalam hati manusia. Akan tetapi, setan selalu ingin mengambil sukacita itu dari hati manusia. Oleh karena itu, St. Teresa memberikan empat jalan untuk mengalahkan kuasa si jahat yang senantiasa menciptakan kemurungan dan kepahitan di hati manusia ini.

1.1 Memuji orang lain
Dengan memuji dan ikut bersukacita atas keberhasilan orang lain, kita melawan kecenderungan murung dan iri atas prestasi sesama. Kita sering terjebak dalam kemurungan dan kepahitan karena tidak dapat menerima  kenyataan bahwa orang lain memiliki beberapa kelebihan dari kita. Mengenai hal ini St. Teresa berkata, “Para suster yang terkasih, jika engkau melihat seseorang yang mendapatkan begitu banyak kemurahan dari Allah, pujilah Dia sepenuh hati. Akan tetapi, jangan bayangkan bahwa ia sudah mendapatkan jaminan keselamatan dengan segala kemurahan Allah itu, sebaliknya engkau harus lebih mendoakan dia.”

1.2 Mewaspadai kedatangan si jahat
Kuasa setan memang sangat kuat seperti singa yang mengaum-ngaum mencari mangsanya. Namun, kedatangannya dapat kita perkirakan, bahkan taktiknya pun dapat diduga. Ia menyerang setiap titik kelemahan kita. St. Teresa mengatakan, “Beginilah sifat khas seorang hamba Tuhan yang sejati, yang kepadanya Tuhan menunjukkan terangnya untuk dapat menelusuri jalan-Nya, yaitu ketika ia ditimpa ketakutan, kerinduannya kepada Allah tidak pernah berhenti bahkan meningkat. Ketika dengan jelas ia melihat serangan si jahat, ia menangkis setiap serangan dan menghancurkan kepala musuh dengan cinta yang besar kepada Allah. Kemenangan ini akan memberikan sukacita yang jauh lebih besar daripada segala kepuasan yang diterimanya dari berbagai kenikmatan dunia.”

1.3 Menguasai diri terhadap pikatan harta duniawi

Salah satu kelicikan setan adalah memikat kita untuk mengumpulkan kekayaan dunia dengan penuh semangat bahkan sampai mengorbankan diri sendiri dan sesama. Kita lupa bahwa harta duniawi akan habis dimakan ngengat. Mengenai hal ini St. Teresa menasihati, “Anak-anakku, marilah kita menyerupai Dia, Raja kita. Ia hidup dalam kemiskinan yang sempurna, yang tak memiliki tempat layak untuk kelahirannya, dan bahkan juga untuk kematian-Nya.” Yesus menolak godaan setan di padang gurun, untuk mengubah batu menjadi roti. Apabila Yesus ketika itu mengikuti godaan setan, setelah mengubah batu menjadi roti mungkin kemudian Ia akan mengubah pasir menjadi anggur, dan seterusnya. Demikianlah Yesus memberikan teladan kepada kita untuk terus berjuang, terus melakukan penyangkalan diri, memanggul salib-salib kita setiap hari dengan setia, sehingga kita tidak mudah terjerumus ke dalam setiap godaan setan dan terhanyut di dalamnya.

1.4 Tidak mengasihani diri sendiri

Seringkali yang membuat manusia murung dan pahit bukanlah masalah ekonomi. Banyak orang kaya yang hidup dalam kepahitan yang besar. Mereka merasa begitu malang dan tak henti menyesali dan mengasihani diri sendiri. Kasihan pada diri sendiri sebetulnya lahir dari kesombongan dan kekecewaan yang berlebihan. St. Teresa Avila mengatakan, “Kemanusiaan kita memang sangat rapuh. Seringkali kita merasa kasihan terhadap diri sendiri atas setiap kemalangan kita, lebih-lebih jika ada orang lain yang menunjukkan rasa kasihannya kepada kita. Padahal itu berarti kita kehilangan rahmat yang bisa kita peroleh dari penderitaan itu. Penderitaan yang seharusnya melatih kita semakin kuat malah membuat kita semakin lemah karena sikap cinta diri yang terlalu besar. Hal ini akhirnya membuat pintu jiwa kita terbuka lebar bagi si jahat yang akan memberikan berbagai pencobaan yang jauh lebih besar daripada yang pernah kita alami sebelumnya.

2. Jendela kedua: Memandang ke seberang derita
Banyak orang mengalami penderitaan dengan penuh keluh kesah dan tanpa ketabahan. Mereka lupa bahwa mereka tidak pernah sendirian, Yesus selalu bersama mereka yang menderita, dan bahkan Yesus lebih menderita lagi atas setiap kejahatan dan kejatuhan manusia. Tidak ada satu penderitaan manusia pun yang tak menjatuhkan hati Yesus ke dalam belaskasihan karena Yesus pernah melalui penderitaan manusiawi dalam hidup-Nya di dunia. “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibr.4:15). St. Teresa menyarankan untuk menjalani setiap penderitaan dalam hubungan yang mesra dengan Tuhan. “Dia Yang Mahakudus tidak akan meninggalkan mempelai-Nya sendirian. Pada saat jiwa masuk ke dalam hatinya, menutup pintu hatinya terhadap segala sesuatu yang bukan Allah, saat itulah ia akan mengalami keindahan keberduaan dengan Allah, sekalipun di dalam penderitaan. “Kemesraan hubungan kita dengan Allah membuat kita dapat melihat harapan di balik penderitaan, sehingga kita dapat mengatasi setiap kepahitan karena adanya sukacita murni yang lahir dari keintiman hubungan kita dengan Allah.”

Apabila engkau merasa begitu menderita atau begitu sedih, tataplah Dia yang juga sangat menderita karena cinta kepadamu. Pandanglah mata-Nya yang indah dan penuh belaskasihan, berkaca-kaca karena air mata, hadir untuk mendampingimu. “Itulah yang disarankan oleh St. Teresa.

3. Mengejar Persatuan dengan Kristus
Dalam berdoa, kita sering minta ini-itu tetapi kita lupa minta persatuan dengan Tuhan. Kita sibuk mencari jawaban dan pengabulan doa-doa kita tetapi jarang kita mencari Tuhan, pemberi segalanya, penjawab semua doa. Tuhan seolah menjadi pesuruh, sehingga ketika doa kita tak terjawab kita menjadi kecewa dengan Tuhan dan tenggelam dalam kepahitan. St. Teresa begitu terpesona ketika jiwanya ditarik dalam persatuan dengan Tuhan seperti seorang pengantin yang disunting Mempelai Ilahi untuk bersatu dalam pernikahan rohani. Semua ini memberikan kebahagiaan jiwa yang mendalam. Namun, kebahagiaan merupakan buah dari persatuan, bukan tujuan yang kita kejar. Jika kita berdoa hanya untuk mencari kepuasan pribadi, dengan cepat kita jatuh dalam kepahitan dan kemurungan saat keinginan kita tak terpenuhi. Namun, persatuan dengan Kristus memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada yang dunia berikan dan menyadarkan kita bahwa Dia adalah segalanya dalam hidup ini, sehingga bersama St. Teresa kita dapat berseru, “Solo Dios Basta (Allah saja cukup)”.

4. Jendela keempat: Mendengarkan dengan selektif
Perkataan membangun (pujian, semangat, dorongan) dapat membangkitkan segala potensi yang ada di dalam diri kita, tetapi sebaliknya (kritikan, kata-kata pedas, ucapan negatif) dapat menjerumuskan kita dalam kepahitan dan kemurungan. Yesus pernah berkata, “perhatikanlah cara kamu mendengar.” (Luk.8:18). St.Teresa mengatakan, “Kita perlu memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan mereka yang hidup dalam teladan Kristus.” Janganlah kita membiarkan telinga kita mendengarkan hal-hal yang dapat melumpuhkan kehidupan rohani kita, karena panca indera dapat menjadi jendela masuknya segala godaan jiwa.

5. Jendela kelima: Kesetiaan Allah Bapa
Saat kita telah berhasil melalui setiap pencobaan, hendaknya kita bersyukur dan belajar untuk melihat betapa besar kasih setia Allah kepada kita. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Kor 10:13) Pada ayat inilah terkandung janji Allah yang tidak akan diingkari selamanya. Perjalanan hidup kita telah tertulis dalam buku kehidupan, yang di lembaran terakhirnya tertulis keselamatan. Oleh karena itu, hendaklah kita tabah dan bersandar kepada Tuhan dalam setiap pencobaan dan derita. Jika tidak, kemurungan, kepahitan, pemberontakan, dan kekecewaan akan menyelimuti hati kita, sehingga tanpa disadari kita telah membiarkan diri dikuasai oleh si jahat.

“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibr.4:16)

Penderitaan dan pencobaan memang tidak dapat kita hindari. Tetapi, dengan iman dan cinta kepada Allah, kita dapat mengatasi setiap kepahitan, dan memekarkan bunga-bunga kehidupan (iman, harapan, dan kasih) yang layak dipersembahkan untuk Yesus Kristus yang lahir di kedalaman hati kita masing-masing.

(Sumber: http://www.holytrinitycarmel.com/mengatasi-kepahitan-menurut-ajaran-st-teresa-dari-avila/)

admin