“MENJADI NABI DI ZAMAN NOW”

Suatu saat di sebuah gereja, seorang anak kecil sedang duduk bersama kedua orang tuanya di bangku gereja sambil menunggu misa dimulai. Ketika bacaan pertama sedang dibacakan, masuklah sepasang pasutri muda ke dalam gereja, lalu duduk di bangku depan anak tersebut. Tiba-tiba anak kecil itu berkata “Papa, kakak itu kok ke gereja pakai sandal jepit? Tadi pagi saya juga mau pakai sandal jepit tapi dimarahin Mama, katanya di Gereja kita mau bertemu Tuhan Yesus, jadi harus sopan dan pakai sepatu.” Dengan wajah polos anak itu bertanya pada papanya dengan suara kecilnya yang polos dan nyaring. Pemuda yang duduk di depannya menoleh ke belakang, melihat pada anak kecil itu sekejap, lalu pura2 tidak mendengar dan kembali mengikuti misa yang sedang berlangsung. Sang ayah mengusap keringat dinginnya, lalu sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya dia berkata pada anaknya sambil berbisik “Sssttt, jangan bicara saat misa”.

Misa pun berlangsung dengan baik tanpa komentar lanjutan dari anak kecil itu. Sampai tiba waktunya konsekrasi, saat khusuk di mana semua umat sedang menatap Hosti dan Piala yang diangkat Pastor, sang anak tiba-tiba berkata lagi dengan suara yang nyaring “Mama, lihat tante di depan lagi main Handphone! Padahal kata Papa kalau waktu konsekrasi kita harus lihat ke arah Altar, tapi tantenya lagi buka Whatsapp Ma!”. Kali ini muka mamanya memerah sambil mengeluarkan keringat dingin, menundukkan kepala dalam2 sambil menutup mulut anak kesayangannya.

Panggilan menjadi Nabi

“Umat Allah yang kudus mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus”, terutama karena cita rasa iman adikodrati yang dimiliki seluruh umat, awam dan hierarki. Karena cita rasa iman itu “umat berpegang teguh pada iman yang sekali telah diserahkan kepada para kudus” (LG 12), memahaminya semakin dalam dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia ini.

Kutipan di atas diambil dari Katekismus Gereja Katolik nomor 785, yang menjelaskan tentang panggilan semua orang yang sudah dibaptis untuk mengambil bagian dan peran sebagai Nabi. (1)

Panggilan ini didapatkan saat kita dibaptis, saat kita memutuskan untuk meninggalkan “manusia lama” dan dengan rahmat Tuhan menjelma menjadi “manusia baru”. Manusia lama tidak lagi boleh berkuasa atas hidup kita. Rasul Paulus menjelaskan dengan gamblang tentang hal ini dalam suratnya kepada umat di Efesus (bdk Efesus 4:17-32).

Seorang nabi adalah seseorang yang menyuarakan kehendak Tuhan. Seorang nabi adalah seseorang yang menghidupi jalan Tuhan, seseorang yang menghadirkan kebenaran sejati di dalam kesehariannya.

(1) Panggilan umat Allah sebagai Imam, Nabi dan Raja dapat dilihat di Katekismus Gereja Katolik No.783-786

Nabi Zaman Now

Menjadi murid Kristus adalah sebuah panggilan yang suci dan menuntut tindak laku iman yang nyata. Dalam menanggapi panggilan dan perutusan sebagai pembawa sukacita dan kebenaran, kita seringkali menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang terasa begitu sulit untuk dihadapi.

Dalam lingkungan kerja, seringkali kita berhadapan dengan lingkungan yang korup, penuh tipu dan mendahulukan egoisme pribadi. Dalam pergaulan, terjadi pergeseran yang begitu besar dalam nilai sosial, budaya dan etika. Dalam rumah tangga, seringkali kesetiaan, kebersamaan dan kehangatan menjadi hal yang langka untuk ditemukan.

Dalam mengutarakan kebenaran, seringkali seseorang harus menerima akibat yang tidak enak untuk dirasakan. Orang-orang akan melihat kita dengan pandangan mata tidak percaya, dan melanjutkan dengan cemoohan atau bahkan dakwaan.

Bagaimanakah seharusnya kita bersikap? Sejauh apa toleransi diperbolehkan? Apabila dengan menghilangkan beberapa aturan yang sudah tidak zaman lagi dapat memenangkan lebih banyak jiwa, bukankah itu hal yang mendatangkan kebaikan lebih besar lagi?

Kebenaran yang tidak pernah berubah

Sebagai umat katolik, kita berpegang teguh kepada Kitab suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja sebagai kebenaran yang menerangi langkah hidup kita. Kristus datang ke dunia, menanggalkan ke-Allah-anNya untuk menjadi manusia supaya kita dapat mengenal kebenaran yang sejati, kebenaran yang hidup, yang dapat menghantarkan kita pada kehidupan kekal yang bahagia. Saat kebenaran sudah menjadi kompromi, maka itu bukan lagi kebenaran. Saat kebenaran tidak lagi dikedepankan, maka kezaliman akan menguak. Dan saat kebenaran mulai ditinggalkan, pintu surga juga akan semakin menjauh dari kita.

Apabila 2000 tahun yang lalu kesembuhan terjadi lewat perantaraan doa umat beriman, hal itu masih juga terjadi di jaman ini. Apabila hosti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus di meja altar 2000 tahun yang lalu, maka demikian juga yang terjadi di masa ini. Dan apabila berzinah adalah dosa yang besar pada 2000 tahun yang lalu, maka perbuatan yang sama di masa ini tidak akan menjadi hal yang dibenarkan atau ditoleransi.

Demikian juga dengan korupsi, berdusta, sikap tidak mengampuni dan setiap dosa lainnya. Seorang nabi yang menyuarakan kebalikannya bukanlah nabi, melainkan nabi palsu. Nabi palsu mengedepankan kepentingan pribadinya, membelokkan kebenaran dan menjauhkan umat Allah dari pintu surgawi.

Panggilan dan Pilihan Sebagai Nabi

Menjadi nabi adalah sebuah panggilan, bukan hanya kepada imam, bukan hanya untuk biarawan/biarawati, bukan hanya bagi aktivis gereja, bukan juga hanya kepada orang yang sudah tua. Panggilan ini telah disematkan semua orang yang sudah dibaptis menjadi anggota Gereja dan anak Allah.

Yang menjadi renungan bagi kita adalah pilihan kita. Akankah kita menolak panggilan ini dengan berpaling dari tugas mulia kita karena kita takut akan konsekuensinya? Kisah Nabi Yunus mengingatkan kita untuk setia dan percaya pada perutusan yang Tuhan berikan dalam hidup kita. Kisah Nabi Musa mengingatkan kita untuk selalu taat dan supaya iman kita tidak akan pernah goyah. Kisah Nabi Elia mengingatkan kita bahwa kuasa Tuhan melebihi segala kuasa lain di dunia ini.

Inilah pilihan yang harus kita ambil. Seorang nabi dapat memilih untuk tidak menyampaikan pesan dan kebenaran Tuhan. Namun dengan demikian dia mengabaikan perutusan yang telah diterimanya. Seorang nabi dapat memilih untuk menyelewengkan kebenaran dan pesan yang harus disampaikannya. Namun dengan demikian dia akan menjadi nabi palsu. Hati-hati jangan sampai batu kilangan diikatkan di leher kita kelak. (2)

Saat kita mendapati diri kita jatuh, lemah, takut dan kalah. Bergantunglah pada kerahiman dan kekuatan Tuhan. Mohon ampun dan minta kekuatan agar supaya saat menghadapi pilihan berikutnya, kita dapat memilih yang baik dan benar. Itulah harapan.

Saat kita gentar dengan besarnya konsekuensi tindakan kenabian kita, berserahlah kepada Tuhan yang mengutus kita karena Dia yang akan memberikan rahmat dan jalan keluar yang kita butuhkan. Itulah iman.

Dan di atas semuanya, lakukanlah semuanya itu bukan supaya dipandang baik, bukan pula supaya kita tidak dicemooh. Melainkan lakukanlah karena kita rindu semakin banyak orang mengenal kebenaran itu, dan supaya rencana Tuhan boleh terjadi. Itulah kasih.

Sebagai anggota KTM, kita patut bersyukur atas motto yang kita miliki. Vivit Dominus In Cuius Conspectu Sto (Allah hidup dan aku berdiri di hadirat-Nya). Hidupilah motto ini dalam keseharian kita. Panggilah nama Yesus setiap kali kita harus mengambil pilihan sulit dalam tugas kenabian kita. Semoga, keberadaan dalam kehidupan kita dapat bersinar terang seperti sebuah mercusuar yang terang dan berdiri teguh di tengah ganasnya badai, sehingga hidup kita itu sungguh membawa pujian bagi kemuliaan nama Tuhan untuk selama-lamanya.

(2) Lihat Injil Matius 18:6-10 tentang hal penyesatan

Pedoman Hidup KTM No. 34

Bila mungkin, buatlah suatu kamar doa untukmu dan keluargamu. Bila tidak memungkinkan, buatlah suatu tempat doa di sudut kamarmu. Hal itu akan membantu engkau berdoa.

Sharing

  1. Ceritakanlah pengalaman membawakan kebenaran yang pernah kita alami. Apakah hambatan tersulit yang harus dilewati? Bagaimana anda melewatinya?
  2. Menurut anda, bagaimanakah anda dapat menjadi seorang nabi dari KTM di tempat anda berada? Sharingkan bersama dan mulailah menjalankannya.

admin