Misionaris Tersembunyi
Menurut ajaran Santa Theresia Lisieux

“Di surga aku rindu untuk melakukan apa yang selalu menjadi hasratku di dunia, yaitu mencintai Yesus dan membuat-Nya dicintai.” (Theresia Lisieux)

“Aku mau memaklumkan Injil ke lima benua sampai ke pulau-pulau yang terpencil. Aku mau menjadi misionaris sejak awal dunia sampai akhir masa. Akan tetapi di atas semuanya itu, Oh Juru selamatku yang terkasih, untuk-Mu aku ingin mencucurkan darahku sampai tetes terakhir. Menjadi martir, itulah idaman masa mudaku. Idaman itu telah tumbuh kini bersamaku, di dalam lorong-lorong biara Karmel.” (Theresia Lisieux)

RINDU MENJADI MISIONARIS

Sejak masa mudanya, St. Theresia Lisieux bercita-cita menjelajah dunia sebagai misionaris. Ia rindu mewartakan cinta Tuhan kepada sebanyak mungkin orang. Tetapi hal itu mustahil dilakukan, karena ia hidup sebagai pertapa Karmelit dalam biara Karmel yang kontemplatif. Ia tak pernah meninggalkan biaranya sekali pun selama hidupnya. Baru setelah meninggal ia dibawa keluar biara untuk menuju ke liang kubur. Akan tetapi, hatinya luas menyeberangi samudera-samudera antar benua.

Allah menjawab kerinduan cinta Theresia dengan memberinya inspirasi untuk mengerti apa yang dapat dilakukannya di balik tembok-tembok biara. Di dalam biara, ia mempersembahkan hidupnya setiap hari untuk sesamanya yang sebetulnya tak pernah ia kenal. Ia lakukan pekerjaan-pekerjaan biasa di dalam biara dengan cinta yang luar biasa kepada Allah. Inilah kemartiran tak berdarah, yang seringkali lebih sulit karena membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang besar.

Pada usia belasan tahun, Theresia mengerti panggilannya untuk berdoa bagi para imam, untuk menjadi “rasul bagi para rasul” (“an apostle to apostles.”)

Sebelum mengucapkan kaulnya, Theresia ditanya mengapa Ia datang ke Karmel? Ia menjawab, “Aku datang untuk menyelamatkan jiwa, dan terutama untuk berdoa bagi para imam.” Sepanjang hidupnya ia berdoa dengan khusyuk bagi para imam dan berhubungan melalui surat dan selalu berdoa untuk seorang imam muda, Adolphe Roulland, dan seorang misionaris muda, Maurice Belliere.

Ia menulis kepada kakaknya, “Misi kita sebagai Karmelit adalah untuk mencetak pekerja untuk evangelisasi yang akan menyelamatkan ribuan jiwa, yang merupakan anak-anak kita (kita bagaikan menjadi ibunda mereka).” (“Our mission as Carmelitesis to form evangelical workers who wil save thousands of souls whose mothers we shall be.”)

Menjadi mempelai bagi-Mu berarti menjadi biarawati Karmel dan oleh persatuan dengan Engkau, aku menjadi ibu bagi jiwa-jiwa,” tulis Theresia. Theresia sungguh menyadari, bahwa jiwanya yang bersatu dengan Kristus dalam cinta, akan menjadi bagaikan seorang ibu bagi jiwa-jiwa yang malang, jiwa yang tidak mengenal kasih Allah dalam hidupnya. Theresia mempersembahkan hidupnya dan segala kurban-kurban kecilnya, agar jiwa-jiwa yang malang itu mengalami pertobatan dan dapat mengalami kasih Tuhan. Di sinilah sang misionaris muda yang tak pernah keluar biara melakukan karyanya. Hatinya menembus tembok-tembok biara, dan persembahan hidupnya menjamah hati banyak orang di segala tempat dan segala zaman.

Sesungguhnya kerinduan Theresia untuk membuat Yesus dicintai semua orang berangkat dari kerinduan Yesus sendiri. Ketika masih hidup di dunia ini, Yesus bersabda, “Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” (Yoh.12:32) Cintanya yang besar kepada Yesus membuat Theresia merindukan segala sesuatu yang dirindukan Yesus. Ia ingin menarik semua orang datang kepada Yesus.

Theresia meninggal dunia di usia yang masih sangat muda, 24 tahun. Pada tahun 1925, Theresia digelari sebagai ‘santa’ oleh Paus Pius XI (1922-1939) dan diangkat sebagai ‘Pelindung Karya Misi Gereja’ sejajr dengn St Fransiskus Xaverius – yang mewartakan Injil sampai ke Asia termasuk Indonesia – , walaupun ia tidak pernah menginjakkan kaki keluar dari biara,

PANGGILAN SETIAP MURID KRISTUS MENJADI MISIONARIS

Setiap anggota KTM memiliki panggilan yang luhur ini di dalam hidupnya. Melalui pencurahan Roh Kudus, hati mereka disulut oleh panah api cintakasih ilahi, yang membuat hati mereka berkobar-kobar karena cinta dan untuk cinta. Hati yang bernyala-nyala oleh api cintakasih ilahi ini akan membuat hidupnya dapat menjadi berkat bagi orang lain.

Sebagai anggota KTM tidak berarti harus melakukan karya-karya misi ke berbagai tempat. Ia tidak harus pandai mengajar dan berkotbah, atau memiliki suara merdu yang dapat menghanyutkan orang dalam pujian. Akan tetapi, setiap anggota KTM dipanggil untuk menjadi misionaris-misionaris tersembunyi. Tanpa ada yang tahu, dan memang tidak perlu ada yang tahu, lewat persembahan hidupnya setiap hari kepada Allah, ia menjadikan hidupnya sebagai berkat bagi orang lain. Ia tetap tinggal dalam segala kegiatannya sehari-hari; sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak-anak, sebagai seorang ayah yang bekerja mencari nafkah, sebagai seorang anak yang sibuk belajar, dan sebagainya. Akan tetapi, segala aktivitasnya itu dilakukan dengan cinta, demi cinta, dan untuk cinta kepada Tuhan. Inilah yang berkenan kepada Allah. Satu hari yang dilalui dalam persatuan cintakasih dengan Allah akan sangat berguna bagi Gereja dan dunia, karena hari itu akan mendatangkan pertobatan dan berkat bagi jiwa-jiwa yang membutuhkannya.

Kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris-misionaris tersembunyi, untuk menghantar jiwa-jiwa ke pangkuan Bapa surgawi. “Aku haus.” Seruan Yesus di atas kayu salib ini dimengerti Theresia sebagai kehausan Yesus akan jiwa-jiwa manusia. Semoga seruan Yesus ini pun bergema selalu di kedalaman hati kita. Menguatkan kita untuk senantiasa hidup di hadirat Allah demi jiwa-jiwa, mengobarkan hati kita untuk merindukan keselamatan bagi jiwa-jiwa, dan akhirnya membuat kita bersama dengan Yesus berseru pula, “Aku haus.”

Sumber materi:

Sr. Maria Skolastika, P.Karm, Misionaris Tersembunyi, https://www.mail-archive.com/renungan-vacaredeo@yahoogroups.com/msg00027.html

Amore Dio, Saint Theresia of Lisieux, http://cg.amoredio.org/cg-reading/saint-theresia-of-lisieux/

Sharing

* Yesus rindu akan keselamatan jiwa-jiwa, bagaimanakah Anda menanggapi kerinduan Yesus itu? Apa yang Anda lakukan untuk membawa jiwa-jiwa kepada Yesus? Sharingkanlah pengalaman Anda

* Bagi Anda pribadi manakah yang lebih menarik menjadi misionaris tersembunyi seperti St. Theresia atau menjadi misionaris aktif seperti St. Fransiskus Xaverius? Sharingkanlah pendapat Anda.

admin