“MENJADI PEMBAWA SUKACITA”

“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” Mazmur 16:11

Pendahuluan

Sebagai makluk hidup yang memiliki akal budi dan tentunya sebagai pribadi yang mengenal kasih Tuhan Yesus pasti kita ingin menjadi sosok pribadi yang menjadi berkat bagi sesama yaitu menjadi pembawa sukacita bagi sesama dan siapa pun juga. Namun sesungguhnya menjadi pembawa sukacita yang sungguh-sungguh sesuai dengan nilai luhur kristiani adalah sebuah tantangan dan peluang bagi kita semua. Tantangan untuk menjadi pembawa sukacita tentunya bukanlah hal yang mudah apa lagi jika dilakukan dengan hati yang tulus karena cinta yang begitu besar kepada Tuhan. Namun kadang-kadang kita sulit menjadi pembawa sukacita karena terkadang kita masih merasa diri kita dirugikan karena cinta diri yang berlebihan. Peluangnya adalah dengan menjadi pembawa sukacita, kita dibawa semakin mencintai Tuhan lewat sesama dalam kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan, Gereja dan masyarakat secara luas.

Apa yang harus dilakukan agar kita bisa menjadi pembawa sukacita bagi sesama:

  1. Belajar lebih suka melayani dari pada dilayani
  2. Sukacita dipelihara dan ditopang oleh firman Tuhan dengan penghayatan kitab suci
  3. Merenungkan kasih Yesus sehingga kita dapat meneladaniNya
  4. Penghayatan yang benar dan mendalam akan sakramen Ekaristi

Dengan memahami arti pembawa sukacita yang sesungguhnya kita diajak keluar dari cinta diri dan memberikan sukacita bagi orang lain, dan bagaimanakah kita mencapainya yaitu dengan cinta kasih. Kita dapat belajar dari bebrapa tokoh dalam kitab suci ini bagaimana mereka ditengah kehidupan yang sulit bisa menjadi pembawa sukacita :

  1. Yakub
    Anak Ishak dan Ribka ini sempat melarikan diri. Dia pun sampai di rumah pamannya Laban dan beternak di sana. Dia tidak punya uang dan tidak punya prospek pekerjaan yang jelas sampai akhirnya Laban menawarinya pekerjaan. Saat dirinya diberi pekerjaan itu, Yakub bahkan berjanji untuk melayani Laban selama tujuh tahun lamanya (baca Kejadian 29 : 18). Laban pun setuju dan kemudian Alkitab mencatat bahwa Yakub bekerja tujuh tahun untuk mendapatkan Rahel karena dia mencintai putri Laban itu (Kejadian 29: 20).

    Sungguh pengorbanan cinta yang indah! Bagi sebagian orang yang bekerja selama tujuh tahun tanpa mendapat upah pasti bakal menganggap hal itu sangat mengerikan. Tapi tidak bagi Yakub. Dia memilih bersukacita untuk menjalankan pekerjaannya sebagai peternak. Meskipun Laban menipunya, Yakub tetap saja taat mengikuti apa yang dijanjikan Tuhan atas hidupnya, yaitu beroleh hormat, kekayaan dan keluarga besar.

  2. Yusuf
    Anak dari pasangan Yakub dan Rachel ini adalah anak bungsu kesayangan Yakub. Yusuf sudah digariskan untuk menjadi ahli waris dari keluarganya. Karena dia adalah anak paling bungsu, dia pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan sang ayah sementara anak-anak lainnya bekerja menggembalakan domba. Karena itu, saudara-saudaranya cemburu dan membenci dia. Mereka akhirnya berencana menjualnya menjadi budak.

    Tapi Alkitab mencatat, meskipun pada akhirnya Yusuf menjadi budak, dilemparkan ke dalam penjara dan kehilangan tiga belas tahun hidupnya, “Tuhan tetap menyertai Yusuf sampai dia menjadi orang sukses. Tuhan menyertai Yusuf dan kebaikannya dia mendapat kemurahan hati dari kepala sipir penjara dan apapun yang dikerjakannya Tuhan buat berhasil.” (baca Kejadian 39: 2, 21-22).

    Tentu saja Yusuf tidak akan sampai pada tujuan Allah kalau dia marah dan mengeluh. Dia terus hidup dalam iman dan bersukacita di dalam Tuhan yang telah memberi-Nya segala hormat danberkat. Dia tahu kalau Tuhan punya rencana dalam hidupnya, bahkan saat semua jalan tampak buntu. Sampai akhirnya Firaun mengangkatnya sebagai orang kedua terpenting atas seluruh Mesir dan dia pun kembali berkumpul dengan saudara-saudaranya. Dia bahkan meyakinkan bahwa dia tak akan membalaskan perbuatan saudara-saudaranya yang dulu karena Tuhan menginjinkan itu semua terjadi untuk mendatangkan kebaikan. (baca Kejadian 50: 19-20).

  3. Ruth
    Ruth adalah seorang wanita Moab dan menantu dari seorang janda Yahudi bernama Naomi. Kondisi hidup wanita ini begitu mengerikan. Suaminya telah meninggal begitu juga dengan mertua laki-lakinya. Dia dan Naomi tak punya apa-apa. Kondisi hidup mereka begitu miskin. Sampai akhirnya Naomi memutuskan untuk kembali ke tanah Yehuda.

    Bersama Naomi, Ruth menemukan sukacita bersama Allah yang dipercayai Naomi! Dia memilih untuk melanjutkan hidup bersama mertuanya yang sudah renta itu. Berkat Naomi, Ruth menemukan pasangan hidupnya dan menjadi wanita pilihan yang dipercaya sebagai pasangan yang akan melahirkan Raja.

    Kita bisa belajar dari tokoh kitab suci tersebut dan meneladani mereka dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa membawa arti sukacita yang sesungguhnya bagi sesama.

Apa sebenarnya sukacita itu,

Sukacita adalah kondisi dimana kita harus tetap dapat berbahagia dalam situasi apapun yang kita hadapi, sedangkan kebahagiaan itu adalah ekspresi dari apa yang terjadi di sekitar kita. Sehingga sukacita adalah kesadaran yang mendalam bahwa apapun kondisi kita, hal itu sudah diatur oleh Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Apa yang alkitab katakan tentang sukacita :

  • Tujuan Yesus dalam semua yang Dia ajarkan adalah sukacita bagi umatnya (Yoh 15 :11)
  • Sukacita adalah apa yang Allah penuhkan kepada kita ketika kita percaya kepada Kristus (Rom 15:13)
  • Kerajaan Allah adalah sukacita (Rom 14:17)
  • Sukacita adalah buah Roh Allah yang ada didalam diri kita (Gal 5:22)
  • Sukacita adalah tujuan dari segala sesuatu yang para rasul lakukan dan tuliskan ( 2 Kor 1:24)
  • Menjadi orang Kristen adalah menemukan sukacita yang menjadikan kita bersedia meninggalkan segala sesuatu (Mat 13:44)
  • Sukacita dipelihara dan ditopang oleh firman Allah dalam alkitab (Mzm 19:8)
  • Sukacita akan mengambil alih semua kesedihan orang yang percaya kepada Kristus (Mzm 126 :5)
  • Allah sendiri adalah sukacita (Mazmur 43:4)

Lalu pertanyaannya, mengapa kita sering kali tidak mengalami sukacita, padahal sukacita itu merupakan buah Roh (Galatia : 5:22), ada tiga hal yang sering menjadi pencuri sukacita kita :

  1. Kekhawatiran
    Kekhawatiran yang berlebihan yang mungkin terjadi atau mungkin saja tidak terjadi (dan biasanya tidak terjadi)
  2. Tekanan Batin (ketegangan yang berlebihan terhadap situasi yang tidak dapat diubah atau dikontrol) padahal Allah sendiri mampu melakukan apapun atas kita.
  3. Ketakutan (kecemasan yang sangat terhadap bahaya, kejahatan atau penderitaan) dan hal itu biasanya memperbesar masalah kita.
    Benteng untuk menangkal si pencuri sukacita ini adalah kita harus memiliki keyakinan yang sama seperti yang dikatakan rasul paulus kepada umatnya di filipi “Ia yang memulai segala pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” Filipi 1:6

Langkah iman apa saja yang kita lakukan agar sukacita itu tetap ada dalam kehidupan kita sehari-hari?

Permenungan bagi setiap orang adalah membuat daftar sukacita di dalam hidupnya, mulailah dengan memperhatikan momen-momen penuh canda tawa, kepuasan dan sukacita dalam keseharian.

Apapun daftar sukacita kita sebagai orang kristiani, pastikan berhubungan dengan kehadiran dan kuasa kristus dalam berbagai peristiwa. Apapun keadaan kita, sukacita adalah pemberian penuh rahmat bagi semua orang yang percaya kepadaNya. Bahkan ketika Yesus menghadapi kesengsaraanNya di kayu salib, hatiNya tetap bersukacita. Dia memberitahukan kepada muridNya, “semua itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaku ada didalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh 15:11)

Rhema ayat minggu ini

Filipi 4 :8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”.

Pedoman hidup KTM No. 36

Hidup doa

Inti hidup kristen dan rohani kita ialah relasi pribadi dengan Tuhan. Tanpa relasi pribadi ini  tidak ada hidup rohani. Dan doa merupakan ungkapannya yang utama. Karenanya doa harus menjadi napas hidup kita, menyertai kita setiap saat. Bila doa kita otentik, hubungan dengan Tuhan akan menjadi semakin dalam. Sebaliknya hubungan yang mendalam akan memberikan kualitas baru pada doa kita. Hubungan pribadi ini dapat diungkapkan dalam pelbagai bentuk.

Sharing:

  1. Apakah saat ini Anda dapat merasakan sukacita sejati dalam kehidupan Anda? Jika tidak, mengapa?
  2. Sikap apa yang kamu lakukan untuk menjadi pembawa sukacita?
  3. Apa yang engkau rasakan saat mengetahui bahwa hidupmu boleh menjadi berkat bagi sama karena penuh sukacita?

admin