SANTO VINSENSIUS A PAULO

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN,
yang akan membalas perbuatannya itu”
(Ams 19 : 17)

Pendahuluan

Setiap tanggal 27 September kita memperingati wafatnya Santo Vinsensius a Paulo, Rasul Cinta Kasih bagi Orang Miskin dan Penghibur Orang-orang Sakit. Vinsensius, putra seorang petani miskin, lahir pada tanggal 24 April 1581 di Pouy, Gascony, Prancis. Ayahnya Jean de Paul dan ibunya Bertrande de Moras dikenal sebagai petani miskin dengan 6 orang anak. Meskipun demikian, mereka orang beriman dan saleh hidupnya. Mereka mendidik anak-anaknya dalam kerja dan hidup doa sehingga semuanya berkembang dewasa menjadi orang beriman yang saleh dan disenangi banyak orang. Vinsensius a Paulo adalah tokoh pendiri Kongregasi Misi untuk para imam Misioner dan Kongregasi Suster Puteri Cintakasih.

Masa Dewasa dan panggilan menjadi Imam

Pada umur 15 tahun, keluarga dan desa ditinggalkannya untuk belajar di suatu asrama  yang dipimpin oleh para imam Fransiskan di kota Dax. Selama di kota itu, Vinsensius menjadi pengasuh anak-anak keluarga de Comet. Keluarga de Comet ini berperan dalam mendukung biaya pendidikannya dengan demikian Vinsensius bekerja sambil belajar. Karena kecerdasannya, Vinsensius ditahbiskan sebagai imam pada 23 September 1600 di usianya yang ke-19 tahun. Studinya dalam bidang teologi akhirnya diselesai kan di kota Toulouse pada tahun 1604.

Masa Perbudakan

Pada tahun 1605, dalam perjalanan pulang, kapal yang ditumpanginya disergap oleh bajak laut dari Turki di Laut Tengah. Vinsensius ditangkap dan dijadikan budak di Tunisia. Di sana ia dibeli oleh seorang saudagar dari Afrika Utara. Selama 2 tahun, dia mengalami banyak penderitaan karena perlakuan kasar majikannya. Namun dia dengan sabar dan rendah hati menanggung semuanya itu. Teladan hidupnya akhirnya berhasil mematahkan kekerasan hati tuanya sehingga dia tidak disiksa dengan pekerjaan-pekerjaan berat. Pada tahun 1607, Vinsensius berhasil meloloskan diri dari cengkeraman tuannya dan lari ke Roma.

Awal Pelayanan sebagai Imam

Di Roma, Vinsensius belajar lagi Teologi selama 2 tahun sebelum kembali ke Prancis. Di Prancis, ia bekerja di paroki Clichy di pinggiran kota Paris. Di bawah bimbingan Pater Pierre de Berulle, seorang teolog terkenal yang kemudian menjadi Kardinal, ia menjadi seorang imam yang disukai umat. Atas permintaan Pater Pierre de Berulle, ia menjadi pengajar pribadi putera tertua Philippe Gondi, seorang bangsawan terkemuka dari Prancis. Dalam keluarga bangsawan ini, Vinsensius mulai mencurahkan seluruh kemampuannya. Ia tidak hanya mengajar tetapi juga memberikan bimbingan rohani kepada para petani yang bekerja, di perkebunan-perkebunan keluarga Gondi di Champagne dan Picardy. Kepada mereka, Vinsensius mengajarkan kebajikan-kebajikan iman Kristen dan mendorong mereka untuk selalu menerima sakramen terutama Komuni Kudus serta kembali kepada praktek iman Kristen yang benar dalam hidup sehari-hari.

Pada tahun 1617, Vinsensius diangkat sebagai pastor paroki Chatillon-Les-Dombes. Paroki ini tergolong sulit dan berat karena sarat dengan masalah kemerosotan moral dan praktek kekafiran. Vinsensius ternyata berhasil mempertobatkan umat paroki itu hanya dalam waktu 1 tahun. Kesalehan hidupnya dan caranya melayani umat sanggup mematahkan kedegilan hati umat. Di paroki itulah Vinsensius mulai merintis pendirian tarekat Persaudaraan Cinta Kasih. Ia berhasil menarik 20 orang wanita yang dengan sukarela mengunjungi orang-orang sakit dan para fakir miskin di seluruh wilayah paroki.

Sejarah Pendirian Kongregasi Misi

Menyaksikan prestasi Vinsensius, Jean Francois de Gondi, Uskup Agung Paris dan saudara kandung Philippe Gondi, meminta Vinsensius mendirikan sebuah tarekat missioner untuk mewartakan Injil dan melayani sakramen-sakramen di seluruh wilayah keuskupannya. Tarekat missioner ini kemudian dikenal luas dengan nama “Kongregasi Imam untuk karya Misi” atau Kongregasi Misi (CM). Imam-imam dalam kongregasi ini lazim juga disebut “Imam-Imam Lazaris”.

Pada mulanya para Imam CM bermarkas di Kolese des Bos-En fants, yang dipercayakan kepada Vinsensius oleh uskup Agung Jean Francois de Gondi. Masalah besar yang dihadapi Vinsensius adalah kurangnya persiapan imam-imam diosesan Prancis untuk tugas-tugas pastoral. Untuk mengatasinya, Vinsensius mulai melancarkan program  pembinaan rohani khusus untuk para calon imam yang akan ditahbiskan.

Untuk itu, ia memindahkan pusat karyanya ke biara Santo Lazarus di Paris atas dukungan kepala biara itu. Di biara itu, Vinsensius memprakarsai pertemuan mingguan untuk imam-imam diosesan, dan kegiatan pemeliharaan anak-anak yatim piatu dan para fakir miskin. Melalui pertemuan mingguan itu, ia berhasil mendidik sejumlah orang saleh dari Prancis, seperti Jacques Benigne Bossuet dan Jean Jacques Olier, Pendiri Serikat Santo Sulpice.

Sejarah Pendirian Kongregasi Suster Puteri-Puteri Cintakasih

Bagi para miskin dan orang sakit, ia mendirikan banyak yayasan Persaudaraan Cintakasih, yang telah dimulainya di paroki Chatillon-LesDombes. Louise de Marillac, janda Antoine Le Gras yang kemudian digelari kudus, ditugaskan untuk mengurus yayasan-yayasan itu. Orang-orang kaya dimintanya menyumbangkan sejumlah kekayaannya bagi orang-orang miskin. Beberapa wanita di bawah pimpinan Louise de Marillac dibimbingnya untuk menangani karya itu. Kelompok kecil ini terus bertambah jumlahnya dan akhirnya menjadi satu kongregasi tersendiri, Kongregasi Suster Puteri-Puteri Cinta Kasih. Kelompok suster ini merupakan kelompok religius terbesar dalam Gereja dewasa ini. Semangat dua kongregasi religius yang didirikannya diilhami oleh pandangannya tentang cinta kasih kepada Tuhan yang bersifat praktis: “Cintailah Tuhan dengan kedua tanganmu sampai kecapaian dan dengan butir-butir peluh yang mengucur dari wajahMu!”

Masa Akhir Hayat dan Pengudusan

Vinsensius a Paulo meninggal dunia di Paris pada tanggal 27 September 1660. Oleh Paus Klemens XII, ia digelari ‘kudus’ pada tahun 1737, dan oleh Paus Leo XIII diangkat sebagai pelindung semua karya dan perkumpulan cintakasih.

Marilah kita meneladani hidup Santo Vinsensius a Paulo dengan terbuka terhadap penderitaan orang-orang di sekitar kita terutama dalam berbagi dan melayani orang miskin dan orang sakit.

(Sumber: e-katolik dan sumber-sumber lainnya)

Sharing

Seberapa besar kepedulian kita untuk meluangkan waktu / harta / tenaga dalam pelayanan terhadap orang miskin dan orang sakit? Apakah kita sudah hidup sederhana di hadapan Allah sebagai wujud kepedulian kita terhadap orang miskin dan orang sakit? Buah-buah apa yang kita peroleh dalam hidup sederhana dan pelayanan kita itu? Sharingkanlah pengalamanmu!

admin