MENGASIHI TANPA BATAS

“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” (Yeremia 31:3)

Allah mengasihi kita dengan kasih yang tanpa batas. Kasih yang kekal, tiada batasnya dan abadi. Seperti apakah ‘kasih tanpa batas’ itu? Dalam penampakannya kepada St Faustina, Yesus berkata : “Dalamnya belas kasihku itu seperti jurang yang tanpa dasar.”

Kasih Allah yang tak terbatas itu tak pernah hilang. Kita tidak bisa melakukan apapun agar Tuhan mengasihi kita lebih dari yang sudah Ia lakukan, dan kita juga tidak bisa melakukan apapun agar Tuhan mengurangi kasih-Nya kepada kita. Tidak ada apapun, yang dapat menghilangkan kasihNya kepada kita. Memang sulit bagi kita untuk memahami dan mengerti kasih yang tak terbatas itu.

Paulus berkata: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:35, 38-39)

Itulah sebabnya Rasul Paulus berdoa (Ef 3:18-19) “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.”

Kenyataan bahwa Bapa mengasihi kita, tidak boleh hanya berhenti pada pengetahuan belaka. Kasih harus dialami, bukan hanya sekedar pemahaman intelektual. Semakin kita menyadari kasih Allah yang tak pernah berubah itu, semakin kita akan merasa kagum dan bersyukur.

Manusia sulit mengasihi tanpa batas. Kasih yang besar pada awalnya, bisa berubah menjadi kebencian yang mendalam dalam sekejap.

Kita ingat cerita rakyat Malin Kundang. Tentang seorang anak yang melupakan kebaikan ibu yang telah membesarkannya. Setelah kaya, ia malu mengakui ibunya yang sudah tua dan miskin. Ibunya berusaha menyadarkan, tetapi ia tetap tidak mau mengakui. Akhirnya kesabaran sang ibu habis. Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Kesabaran sang ibu, sebagai manusia, ada batasnya.

KASIH IBU SEPANJANG JALAN. KASIH TUHAN TIDAK ADA BATASNYA.

Dalam Perjanjian Lama, digambarkan bagaimana Tuhan membimbing umat Israel keluar dari perbudakan Mesir, dan menyelenggarakan hidup mereka di perjalanan dengan banyak mujizat. Meski begitu, kebaikan dan belas kasih-Nya kerap kali dilupakan umat Israel. Mereka berpaling menyembah ilah lain. Berulang-ulang Tuhan memanggil mereka kembali, berkali-kali pula mereka kembali tidak setia. Bersyukur bahwa Tuhan bukan manusia. Dia tak pernah habis sabar seperti ibu Malin Kundang. Dia mendisiplin umat-Nya, namun tidak menghendaki umat-Nya binasa. Tuhan mengasihi manusia tanpa batas.

Semasa hidupNya di dunia, Yesus mengajarkan dan sekaligus membuktikan dengan konkrit, kenyataan yang sangat membahagiakan itu: bahwa Allah mengasihi kita tanpa batas. Itulah KABAR GEMBIRA yang sejati!

Mengalami dikasihi Allah tanpa batas demikian, kita anak-anakNya diajarkan untuk   juga melakukan hal yang sama:

  1. Mengasihi dengan tulus hati tanpa membeda-bedakan kaya miskin, status, suku, ras, golongan, agama.
    Mazmur 145:9. “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.”
    Orang sering hanya mau bergaul dengan orang yang se ‘level’ dengannya.
    Mari kita merefleksikan kembali; Siapakah sesamaku manusia?
  2. Mengasihi tanpa mengharapkan imbalan, semata-mata hanya karena ingin membalas kasih Allah.
    1 Yoh 4:11. “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”
    Manusia biasa selalu berhitung untung-rugi, timbal balik, dan hanya memikirkan kepentingan / keuntungan diri sendiri. Misalnya bila kita berharap orang itu datang kepesta kita maka kita lebih dahulu menghadiri pestanya. Aku mau menolong orang itu karena ia pernah menolongku.
  3. Menerima orang lain apa adanya termasuk kekurangannya. Ini tidak berarti menyetujui segala tindakannya yang berdosa. Seperti Yesus, kita harus membenci dosa, tapi tetap mengasihi pendosanya.
    Roma 5:8. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
    Kita sering melakukan sebaliknya. Misalnya bila ada kenalan koruptor kaya, kita suka menggosipkannya, tapi senang juga apabila disumbang dengan uang haramnya.
  4. Mengampuni kesalahan orang, betapapun pun besarnya dan seringnya.
    Mat 18:22. Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
    Luk 23:34. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
    Kita seringkali sulit memaafkan orang yang pernah melukai kita. Terutama apabila yang terluka ego atau harga diri kita. Padahal kita berharap dosa kita yang banyak itu diampuni Tuhan.
  5. Mengusahakan yang terbaik walaupun orang tersebut memusuhi dan melakukan yang jahat kepada kita.
    Yoh 3:17. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

    Alih-alih mengusahakan yang terbaik, biasanya kita lebih memilih membalas dendam, atau minimal menjauhkan diri dari orang yang membuat kita tidak nyaman.
  6. Siap berkurban demi kasih, bahkan sampai rela mengorbankan nyawa.
    Yoh 3:16. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
    Yoh 15:13. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
    Kita ingat St. Maximilian Kolbe yang bersedia menyerahkan nyawa untuk menggantikan seorang tawanan yang dihukum mati di penjara Auswitz. Ia mengasihi tanpa batas.
  7. Setia mengasihi tanpa batas akhir, tanpa pernah berubah.
    2 Tim 2:13. “jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

    Yer 31:3. “Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.”

Apabila manusia benar-benar menyadari betapa ia dikasihi Allah dengan tanpa syarat, walaupun banyak dosanya, maka ia akan terdorong untuk dapat mengasihi orang lain dengan tulus. Mari kita mohon rahmat Tuhan yang akan memampukan kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri, bahkan lebih lagi; seperti Yesus telah mengasihi kita, yaitu dengan cinta yang tanpa batas.

Pedoman Hidup KTM no. 38:

Pada waktu malam sebelum tidur, baiklah juga berdoa mohon perlindungan Tuhan dalam tidurmu. Waktu itu baik kalau doa disertai pemeriksaan batin untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikan yang kamu alami dan minta ampun untuk kesalahan yang terjadi dan mohon kekuatan untuk menjadi lebih baik lagi.

Sharing

  1. Sharingkan hambatan yang anda hadapi dalam mengasihi sesama tanpa batas, dan usaha untuk mengatasi hambatan tersebut.
  2. Sharingkan upaya anda untuk mengasihi seperti Kristus telah mengasihi

Referensi:https://www.jawaban.com/read/article/id/2007/08/10/63/070808111117/aku_mengasihimu_dengan_kasih_yang_tanpa_batas

 

admin