Oleh : Adrianus Maria, CSE
1.1 Pengantar
Adalah seorang pemudi yang datang kepada Tuhan dan mengeluh panjang dengan mengatakan bahwa salib yang harus dipikulnya itu terlalu berat. Suatu hari ia merenung dan bertanya dalam hati, “Apakah salib yang kupikul ini membawaku kepada Allah atau memang tidak mempunyai arti sama sekali?” Pertanyaan ini timbul sebab ia adalah seorang yang saleh dan taat kepada Tuhan. Pergumulan itu terus menyelimuti dirinya. Sampai suatu ketika ia bertanya dalam hatinya, “Apakah Tuhan itu ada? Kalau memang Tuhan itu ada, mengapa Ia membiarkanku mengalami penderitaan?”

1.2 Manusia mencari Allah

Pahit kehidupan memang tak kunjung putus menerjang siapa pun pada setiap zaman. Teramat naif bahwa mengharapkan hidup hanya dengan sinar pagi yang lembut, atau sinar senja yang indah mempesona, tanpa terik matahari di siang bolong. Roda kehidupan bergulir di banyak sisi: dari rutinitas, biasa, sedang, indah sampai yang terpuruk. Pahit kehidupan dalam batas tertentu adalah tanda hidup normal. Siapa pun dapat mengalami saat-saat pahit di dalam hidupnya: dalam pekerjaan, pergaulan, keluarga, masyarakat, dan lain-lain. Dan siapa pun bisa tersungkur remuk karena kepahitan itu.

Penderitaan merupakan suatu kenyataan yang secara spontan ingin dihindarkan. Penderitaan pada diri sendiri mengandung tuntutan dan desakan untuk dilenyapkan. Fakta adanya penderitaan dapat menimbulkan kesulitan konseptual dan keberatan moral sampai pada pemberontakan. Sikap ini hendak menunjukkan bahwa Allah harus bertanggungjawab secara langsung, bahkan bersalah secara moral atas adanya penderitaan. Padahal Allah sendiri diyakini sebagai penyelenggara dunia yang Mahakuasa sekaligus Mahabaik.

Bukankah penderitaan semakin menimbulkan banyak kesulitan dalam menjawab pertanyaan di atas? Apakah Allah itu ada? Mengapakah dan bagaimana Allah membiarkan manusia menderita? Muncul banyak pertanyaan dalam benak kita saat menghadapai pencobaan. Lantas apa gunanya Allah disebut Mahakuasa dan Mahabaik? Sungguh ia memang Mahakuasa dan Mahabaik. Dorongan dan tuntutan manusia untuk mendekati penderitaan dan menjelaskan makna penderitaan telah dilakukan oleh St. Agustinus, Irenius dan Thomas Aquinas. Allah kadang-kadang membiarkan penderitaan menimpa manusia. Misalnya bagi Agustinus, “Penderitaan tidak diciptakan oleh Allah tetapi oleh manusia sendiri.”

Penderitaan yang menimpa diri kita seringkali dipahami sebagai hukuman dari Allah. Allah seolah-olah jauh dan tidak peduli pada manusia. Akibatnya kita terjebak pada pandangan dan sikap keliru atas semua hal pahit yang menimpa diri kita. Bahkan, dengan sikap yang ekstrim dan kebencian yang radikal terhadap kenyataan hidup, ada yang mengambil keputusan untuk bunuh diri. Lalu timbul pertanyaan, “Apakah sikap ini membawa kita kepada keselamatan?”

Yesus juga pernah mengalami penderitaan dalam kehidupan-Nya, bahkan sampai wafat di kayu salib. Lalu, bagaimanakah sikap Yesus ketika mengalami penderitaan? Apakah Ia pernah berontak kepada Bapa-Nya di Surga? Kematian Yesus di kayu salib adalah kurban yang satu kali untuk selamanya demi keselamatan manusia. Dan Yesus juga pernah mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Dalam agama Kristen, kitab Ayub merupakan kisah pergumulan manusia mencari jati diri Allah di tengah krisis hidup dan penderitaan. Ayub adalah seorang yang saleh. Ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina. Ia hidup bahagia bersama keluarganya. Akan tetapi, dalam hidupnya ia juga mengalami penderitaan. Kabar tentang penderitaan Ayub sampai ke telinga para sahabatnya. Mereka datang hendak mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia. Saat memandang dari jauh, mereka tidak mengenalnya lagi. Mereka menangis dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepalanya. Lalu mereka duduk bersama-sama dengan dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam.

Namun, air mata kesedihan dan belasungkawa dengan cepat berubah menjadi dakwaan setelah hari ke tujuh. Mereka berpendapat bahwa Ayub tidak mungkin mengalami penderitaan tanpa alasan. Ia pasti mengalami penderitaan karena melakukan tindakan dosa. Ayub bergumul mencari jati diri Allah di tengah tuduhan para sahabatnya.

Ratapan Ayub keluar dari dalam dirinya. Kata-katanya bukan sekedar keluhan. Batin Ayub sedemikian menderita sampai-sampai ia mengutuk hari kelahirannya. Ia mengalami kekacauan dalam jiwanya dan krisis iman menggerogoti dirinya. Kata-katanya bukan tuduhan, melainkan mengungkapkan ketidakberdayaan.

Di hadapan penderitaan, orang seringkali mengalami kekosongan dan ketidakberdayaan. Kematian membungkam harapan kita. Kematian menghentikan waktu kita dan menelan masa depan kita. Kematian juga menghentikan dan membungkam kehidupan kita sendiri. Kematian hanya mengizinkan satu jenis bahasa, yaitu bahasa air mata. Dalam bahasa itu kita mendengar kedukaan dan penderitaan mendalam diri kita sendiri. Sementara itu, kita dengar juga tawa mengerikan kematian karena merasa memiliki kuasa atas kehidupan. Penderitaan membuat segalanya gelap, bahkan dalam terang hari. Penderitaan menutupi segalanya dengan bayang-bayang kegelapan, bahkan dalam terik matahari. Kegelapan ada di sana dan tak seorang pun tahu mengapa dan bagaimana. Kegelapan tidak membedakan segalanya. Kegelapan adalah jurang yang menelan segalanya.

Pergumulan Ayub adalah pergumulan manusia yang mengalami transisi dari sosok Tuhan beku yang membisu menuju “God of passion” yang berbicara. Ia bergumul melepaskan diri dari gambaran Allah balas jasa atau balas dendam menuju Allah yang solider dengan penderitaan kita. Lalu timbul pertanyaan, “Mengapa terjadi penderitaan?” Pertanyaan tentang penderitaan adalah pertanyaan religius mengenai bagaimana kita sebagai manusia memahami diri dengan manusia. Sayangnya, bahasa protes demikian sering tidak ditoleransi dalam agama. Dalam doktrin timbal jasa, segala penderitaan adalah hukuman Ilahi terhadap dosa yang telah dilakukan manusia baik secara publik maupun secara tersembunyi.

Orang mungkin dapat menanggung penderitaan fisik dan cemoohan dari masyarakat. Namun mereka, tidak dapat menanggung kesakitan hati karena kepercayaan bahwa mereka dikutuk Allah. Bagi mereka, Allah adalah harapan akhir mereka. Allah adalah hati mereka, pusat kehidupan mereka dan seluruh harapan mereka.

1.3. Jawaban Allah atas penderitaan manusia

Penderitaan merupakan bagian dalam kehidupan manusia. Selama manusia masih hidup ia tidak terlepas dari penderitaan. St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus pernah mengatakan, “Selama manusia masih berada di kolong bumi pasti menderita.” Dan St. Paulus juga mengatakan bahwa kita tidak hanya percaya kepada Kristus tetapi juga menderita untuk kristus. Ini mau mengatakan bahwa hidup kita tidak terlepas dari penderitaan. Sebab penderitaan yang kita alami di dunia ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan. Betapa besar kasih Tuhan atas diri manusia. Dengan maksud itulah Allah sendiri menjadikan kita anak-anak Allah.

Yesus benar-benar memikul segala kelemahan manusia dan pencobaan manusia (Ibr. 4:15; 2:14-17). Yesus mati, turun ke dunia orang mati dan menjadi tak berdaya sama sekali. Dengan jalan itu Allah berkenan membebaskan manusia dari nasib malangnya, dari kutuk, dari hukum Taurat, dari dunia, dari dosa, dan kematian karena dosa. Allah juga menjadikan semua manusia setia kawan dengan Yesus yang dibangkitkan. Yesus yang taat sampai mati (bdk.Fil.2:9) dibebaskan dari keadaan malang itu melalui kebangkitan. Namun, yang dibangkitkan tidak hanya Yesus, melainkan juga semua manusia lain yang menjadi penyerta dalam keadaan Yesus yang serba baru itu. “Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia (yaitu Adam), demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia (Yesus Kristus).” (1 Kor. 15:21)

Berpangkal pada kebangkitan Yesus sebagai tindakan penyelamatan Allah, umat Kristen dapat memahami bahwa dalam semua tindakan Yesus selagi hidup di dunia sudah menjadi nyata merupakan tindakan penyelamatan Allah. Bila Yesus suka bergaul dengan orang yang menjadi sampah masyarakat dan dicap sebagai “orang berdosa” (Mat. 9:10), maka kelakuan Yesus itu memperlihatkan bahwa Allah sendiri memilih dan menyukai orang semacam itu, yaitu mereka yang mengalami penderitaan di dalam hidup. Dalam kotbah di bukit Yesus pernah mengatakan, “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat. 5:3)

Memang justru itulah pokok kepercayaan kristen bahwa Yesus Kristus menempati kedudukan inti dalam rencana penyelamatan Allah. Rencana itu merangkum segenap umat manusia yang percaya kepada-Nya. Dalam Perjanjian Lama ditemukan beberapa ayat yang berkata tentang “rahasia Allah”. Rahasia itu tidak lain tidak bukan ialah rencana penyelamatan Allah yang sejak awal mula ada, tetap tersembunyi dan tidak diberitahukan. Tampilnya Yesus membuat rencana Allah digenapi, menjadi nyata dan terwujud di tengah-tengah manusia.

Pewartaan Injil pada pokoknya tidak lain kecuali tentang rencana penyelamatan Allah yang dengan Yesus Kristus menjadi kenyataan dan terlaksana secara terbuka. Yang penting bahwa setiap orang menyetujui untuk berjuang dan bersabar dalam menghadapi pencobaan di dalam hidup. Lalu apakah Allah itu ada? Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa “Allah itu ada dan Ia tinggal dalam lubuk hati kita yang terdalam.”

1.4. Penutup

Walaupun kerap kali kita terpuruk karena banyaknya masalah dalam hidup kita, sehingga segalanya terasa gelap, namun akhirnya toh hidup manusia terbukti mempunyai arti. Oleh karena itu, hidup ini tidak begitu saja dapat dirumuskan secara pendek. Nilai hidup manusia itu terutama merupakan pengalaman penghayatan pelbagai kenyataan hidup, yang menantang hidup manusia dan merupakan panggilan.

Panggilan hidup manusia itu berseru kepada segenap umat manusia untuk ditanggapi. Aneka tanggapan atas panggilan hidup manusia itu ternyata menimbulkan banyak gagasan yang terkadang membuat kita tidak tahu harus bagaimana. Pada dasarnya hal itu berlatar belakang pada sikap manusia yang tidak mengerti akan pentingnya penderitaan di dalam hidup. Sebab dengan penderitaan kita turut ambil bagian dalam penderitaan Yesus. Dalam bahasa rohani dikatakan Tuhan Yesus selalu menyertai hidup kita. Dan hal ini tepat sekali, karena Tuhan Yesus sendiri pernah mengatakan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat.28:20)

Demikianlah dengan iman yang kita miliki, kita yakin bahwa bahwa Allah itu sungguh-sungguh ada. Semoga.

Sharing :
* Pernahkah Anda mengalami suatu pencobaan atau masalah kehidupan yang membuat Anda mengalami kekeringan rohani? Bagaimana Anda mengatasi hal itu? Sharingkanlah hal itu
* Bagaimana pendapat Anda sendiri tentang keberadaan Allah, apakah dengan banyaknya penderitaan menandakan bahwa Allah itu menjauh dari manusia? Di manakah Allah saat itu? Kemukakanlah pendapat Anda dan sharingkan dengan teman-teman dalam sel


Bagi yang ingin mengutip/menyebarkan artikel ini, harap tetap mencantumkan sumbernya. Terima kasih.
Sumber:
Majalah Rohani Vacare Deo (Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus)
www.holytrinitycarmel.com

admin